Wednesday, 12 July 2017

GELIAT SASTRA DI BUMI SRIWIJAYA



Dimuat di Harian Palembang Ekspres, 10 Juli 2017

Membumikan sastra di Tanah Sriwijaya adalah sebuah tantangan. Konon katanya, masyarakat kita sejak dahulu memang tercipta sebagai manusia pedagang. Jiwa berniaga yang telah mendarah daging itu, seolah menjadi pemakluman bilamana hasrat bersastra di kalangan masyarakat agak kurang.
Menjadikan masyarakat menyukai sastra adalah upaya perjuangan ekstra.  Untuk itu, berbagai acara diadakan guna memanjakan para pengukir kata mulai dari workshop penulisan hingga kompetisi mencipta. Lalu berlomba-lombalah para penyuka sastra mengikuti kegiatan adu mumpuni itu—dari satu lomba ke lomba berikutnya—dari satu daerah ke daerah lainnya. Ada satu hal yang sama. Mirisnya, jumlah pesertanya tak cukup membuat hati bangga. Bilangannya hitungan jari kuku dan kaki. Hal lainnya, ternyata pesertanya memiliki kesamaan rupa. Maksud saya, orang itu-itu saja. Kalaupun bertambah hanya beberapa saja.

Tengok pula keberadaannya di media massa. Beberapa surat kabar telah menyediakan rubrik budaya sebagai penyalur kemampuan bersastra puisi ataupun cerita. Lalu telisiklah lamat-lamat setiap nama yang terukir di halamannya. Hitunglah berapa jumlah penulis asli kelahiran Sriwijaya yang karyanya termuat di sana. Beberapa saja, pastinya! Sisanya? Penulis daerah tetangga.
Mari beralih pula pada penjualan buku sastra. Di toko-toko buku, sastra sepertinya masih sepi pembeli. Maka tak heran jika di pojokan hanya tersedia buku sastra dalam jumlah tidak lengkap. Nasib sama juga menimpa perpustakaan daerah. Buku-buku sastra hanya menghias tiga atau empat rak saja. Itupun buku-buku lama. Dan coba susuri berapa banyak pembacanya. Akan kita temui fakta lirih bahwa pembaca buku sastra hanya belasan atau puluhan saja per harinya. Itu pun ternyata didominasi para mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra kerana ada tugas kuliah.
Tertuju pula pada penguasa. Pemerintah daerah dimanapun berada di Bumi Sriwijaya. Seberapa besar kontribusi nyata mereka guna membangkitkan geliat sastra? Sederhana saja—apa dan seberapa besar apresiasi mereka pada para pegiat sastra. Apakah pernah mereka memberikan penghargaan kepada para sastrawan? Jangankan uang pembinaan, piagam selembar pun tak ada. Mungkin ada! Tetapi sekali atau dua kali saja. Bukan program tahunan melainkan program dadakan. Bergantung selera penguasa.

Masyarakat begitu deru didera lupa akan aksara. Atmosfir pula bak awan mendung tiada cerah. Jika hendak dituruti, mungkinlah tak akan ada geliat sastra di Bumi Sriwijaya. Jangan sampai hal itu terjadi. Mari berubah! 

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa komentarnya ya! Berkomentarlah dengan bijak dan relevan!