Thursday, 14 September 2017

TIGA PUISI SAYA DIMUAT DI PALEMBANG EKSPRES AGUSTUS 2017



Zaman Lancang

Ini zaman, zaman lancang
Segala sesuatunya bermain lancang
Waktu lancang menyolong impian
Pria serupa wanita, lancang
Anak mengangkangi ibunya, lancang
Rakyat membangkangi pemimpinnya, lancang
Sang miskin mengemis pada sang kaya, lancang
Akal melunturkan nurani, lancang
Kejahatan membasmi kebaikan, lancang
Manusia telah lancang pada matanya, telinganya, lidahnya, tangan dan kakinya, pada hatinya
Hamba telah lancang pada Tuhannya
Namun Tuhan tidak lancang turunkan azabnya


FINAL LOMBA INOVASI PEMBELAJARAN GURU DIKDAS 2017

(Saya dan teman saya perwakilan Sumsel yang masuk sepuluh peserta terbaik)


Kilas Balik Proses Perlombaan

Final Lomba Inovasi Pembelajaran guru Dikdas yang diadakan Kementerian Pendidikan digelar 4—8 September 2017 di Bali. Untuk sampai ke final, kami harus melewati beberapa tahapan. Tahap pertama adalah tahap seleksi administrasi dilanjutkan seleksi tahap kedua, yakni seleksi karya tulis (content, sitasi, dan similariti). Pada tahap kedua tersebut dipilih 600 orang guru (300 jenjand SD dan 300 jenjang SMP). Peserta terpilih tersebut selanjutnya dipanggil untuk mengikuti workshop lomba inobel yang dibagi ke dalam lima region. Saya sendiri kebetulan mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop di geion Batam.

Dalam kegiatan workshop, kami diberikan berbagai materi dari narasumber yang ahli di bidangnya. Selama empat hari tersebut, kami mendapatkan banyak sekali ilmu yang bermanfaat. Pada akhir kegiatan, kami diberikan waktu tiga hari untuk merevisi karya tulis yang telah kami ikutkan dalam lomba inobel untuk dikumpulkan kembali dalam waktu yang telah ditentukan.
Setelah semua peserta mengumpulkan revisi karya tulisnya, panitia beserta dewan juri kemudian melakukan seleksi kembali untuk menentukan 34 peserta terbaik pada masing-masing bidang untuk dipanggil mengikuti final lomba inovasi pembelajaran di Bali.

Wednesday, 12 July 2017

GELIAT SASTRA DI BUMI SRIWIJAYA



Dimuat di Harian Palembang Ekspres, 10 Juli 2017

Membumikan sastra di Tanah Sriwijaya adalah sebuah tantangan. Konon katanya, masyarakat kita sejak dahulu memang tercipta sebagai manusia pedagang. Jiwa berniaga yang telah mendarah daging itu, seolah menjadi pemakluman bilamana hasrat bersastra di kalangan masyarakat agak kurang.
Menjadikan masyarakat menyukai sastra adalah upaya perjuangan ekstra.  Untuk itu, berbagai acara diadakan guna memanjakan para pengukir kata mulai dari workshop penulisan hingga kompetisi mencipta. Lalu berlomba-lombalah para penyuka sastra mengikuti kegiatan adu mumpuni itu—dari satu lomba ke lomba berikutnya—dari satu daerah ke daerah lainnya. Ada satu hal yang sama. Mirisnya, jumlah pesertanya tak cukup membuat hati bangga. Bilangannya hitungan jari kuku dan kaki. Hal lainnya, ternyata pesertanya memiliki kesamaan rupa. Maksud saya, orang itu-itu saja. Kalaupun bertambah hanya beberapa saja.

Monday, 29 May 2017

PROGRAM TERBIT BERSAMA ANTOLOGI CERPEN GURU SUMSEL 2017

Ketentuan Umum:
  • Berstatus sebagai guru Sumsel
  • Mengirimkan minimal satu karya atau maksimal 2 karya cerpen
  • Karya yang dikirimkan berupa cerpen dengan tema bebas
  • Karya harus asli buatan sendiri
  • Seluruh karya yang masuk akan dilakukan proses kurasi terlebih dahulu.
  • Cerpen akan dibukukan JIKA minimal terdapat 10 karya yang layak muat.
  • Guru yang karyanya terpilih untuk diterbitkan dalam Buku Antologi Cerpen Terbit Bersama (ber-ISBN) wajib membeli buku karya tersebut minimal 2 ekpsemplar.