Friday, 13 October 2017

"LINYARADARAH" : Strategi Jitu Penumbuhan Budaya Baca di Sekolah Minim Prasarana (Gagasan tentang Gerakan Literasi Sekolah)

LINYARADARAH
Strategi Jitu Penumbuhan Budaya Baca di Sekolah Minim Prasarana
(Gagasan tentang Gerakan Literasi Sekolah)


Alamsari
(Pendidik)


Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), persaingan di berbagai sektor kehidupan semakin kompetitif. Indonesia sebagai salah satu negara yang telah terjun dalam era MEA tersebut harus menyiapkan warga negaranya sedemikan rupa agar siap dan mampu bersaing dengan warga negara lain. Upaya penyiapan kompetensi tersebut harus dilakukan dalam berbagai strategi di berbagai sektor dan bidang kehidupan, utamanya pendidikan. Penyiapan generasi bangsa melalui pendidikan harus dimulai sedini mungkin, yakni sejak usia sekolah dasar (SD) agar generasi kita benar-benar memiliki kualitas yang mumpuni di berbagai bidang yang pada akhirnya akan terserap oleh pasar.
Upaya pencerdasan anak bangsa melalui pendidikan merupakan cara yang paling bijak. Peribahasa China mengatakan bahwa jika kita ingin berinvestasi untuk waktu yang panjang maka didiklah anak-anak kita dengan baik. Hal tersebut dikarenakan anak-anak kitalah yang akan menggantikan kita kelak. Di tangan generasi muda, nasib bangsa ini dipertaruhkan apakah akan jaya atau hancur lebur sedemikian rupa. Melalui pendidikan, kita mampu menghasilkan generasi emas yang akan memberikan bonus demografi bagi bangsa di masa mendatang. Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah kemampuan literasi. Kemampuan literasi merupakan kemampuan yang harus dikuasai dengan baik agar generasi muda dapat bertahan dan bersaing dengan generasi dari negara lain. Melalui literasi yang baik akan mampu menjadikan seseorang menjadi insan yang berwawasan luas dan berpikiran kritis.
Pembiasaan literasi bagi anak didik sejak usia SD dirasa sangat mendesak untuk dilakukan sesegera mungkin mengingat kamampuan literasi anak bangsa masih cukup rendah dibandingkan dengan negara tetangga. Berdasarkan hasil penelitian UNESCO tahun 2012, Indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah yakni 1:1000. Artinya dari seribu orang penduduk Indonesia hanya satu orang saja yang memiliki minat membaca yang tinggi (Alamsari, 2014). Hasil penelitian tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian Taufiq Ismail yang meneliti tentang literasi siswa di berbagai sekolah di Indonesia. Dari hasil penelitiannya, diketahui bahwa anak Indonesia rata-rata membaca nol buku sastra dalam setahun. Hal tersebut berbeda jauh dengan negara-negara tetangga yang membaca sekitar 2-10 buku per tahun (Alamsari, 2016:3)

Thursday, 12 October 2017

OLEH-OLEH DISEMINASI NASIONAL LITERASI DIKDAS KEMDIKBUD 2017

Selasa/ 10 Oktober 2017--saya bertolak dari Bandara SMB II Palembang menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Kepergian saya tersebut dalam rangka mengikuti kegiatan Diseminasi Nasional Literasi bagi guru SMP yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2017. Kegiatan diseminasi itu sendiri dilaksanakan mulai tanggal 10--13 Oktober 2017. 
Kegiatan tersebut diikuti oleh 200 orang guru SMP yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Indonesia. Saya sendiri mewakili Ogan Ilir Sumsel. Dari provinsi Sumsel terdapat 6 orang peserta yang terpilih untuk mengikuti kegiatan tersebut. Keenam guru tersebut berasal dari OKI, Lubuk Linggau, dan Pagaralam. 
Untuk dapat terpilih mengikuti kegiatan Diseminasi Nasional Literasi tersebut, peserta harus harus mengirimkan satu naskah buku dengan tebal minimal 60 halaman. Selanjutnya naskah buku yang telah dikirimkan tersebut diseleksi oleh panitia beserta tim juri untuk ditentukan 200 peserta terbaik yang kemudian dipanggil mengikuti Diseminasi Nasional Literasi tersebut. 



Thursday, 14 September 2017

TIGA PUISI SAYA DIMUAT DI PALEMBANG EKSPRES AGUSTUS 2017



Zaman Lancang

Ini zaman, zaman lancang
Segala sesuatunya bermain lancang
Waktu lancang menyolong impian
Pria serupa wanita, lancang
Anak mengangkangi ibunya, lancang
Rakyat membangkangi pemimpinnya, lancang
Sang miskin mengemis pada sang kaya, lancang
Akal melunturkan nurani, lancang
Kejahatan membasmi kebaikan, lancang
Manusia telah lancang pada matanya, telinganya, lidahnya, tangan dan kakinya, pada hatinya
Hamba telah lancang pada Tuhannya
Namun Tuhan tidak lancang turunkan azabnya


FINAL LOMBA INOVASI PEMBELAJARAN GURU DIKDAS 2017

(Saya dan teman saya perwakilan Sumsel yang masuk sepuluh peserta terbaik)


Kilas Balik Proses Perlombaan

Final Lomba Inovasi Pembelajaran guru Dikdas yang diadakan Kementerian Pendidikan digelar 4—8 September 2017 di Bali. Untuk sampai ke final, kami harus melewati beberapa tahapan. Tahap pertama adalah tahap seleksi administrasi dilanjutkan seleksi tahap kedua, yakni seleksi karya tulis (content, sitasi, dan similariti). Pada tahap kedua tersebut dipilih 600 orang guru (300 jenjand SD dan 300 jenjang SMP). Peserta terpilih tersebut selanjutnya dipanggil untuk mengikuti workshop lomba inobel yang dibagi ke dalam lima region. Saya sendiri kebetulan mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop di geion Batam.

Dalam kegiatan workshop, kami diberikan berbagai materi dari narasumber yang ahli di bidangnya. Selama empat hari tersebut, kami mendapatkan banyak sekali ilmu yang bermanfaat. Pada akhir kegiatan, kami diberikan waktu tiga hari untuk merevisi karya tulis yang telah kami ikutkan dalam lomba inobel untuk dikumpulkan kembali dalam waktu yang telah ditentukan.
Setelah semua peserta mengumpulkan revisi karya tulisnya, panitia beserta dewan juri kemudian melakukan seleksi kembali untuk menentukan 34 peserta terbaik pada masing-masing bidang untuk dipanggil mengikuti final lomba inovasi pembelajaran di Bali.