Selamat Datang di www.pengingatku.blogspot.com

Friday, 10 October 2014

Cerita Mini



Di Batas Umurku
Oleh Alamsari

“Tok…Tok….Tok ” Suara pintu yang kuketuk. Tanganku kala itu sedikit gemetar. Tak biasanya aku seperti ini. Entah mengapa? Perasaanku sungguh deg-degan.
Semenjak Bu Hany; guruku tak PPL[1] lagi disekolahku, aku selalu merasa gelisah. Ya! Kala jumpa pertama kali dengannya, aku memang sudah menaruh hati. Tampilannya yang anggun, gaya bicaranya yang santun, sungguh membuat aku kagum. Sejak saat itu pula, setiap malam aku selalu terbayang-bayang padanya.
“Kreek…..” Tiba-tiba pintu yang kuketuk terbuka.
“Eh…kamu Dit ” Sapa Bu Hany dengan suara agak ketus.
“Kenapa kamu ke sini? Sudah kukatakan, berhentilah untuk suka pada ibu. Ini tidak boleh Dit. Ada banyak alasan untuk itu” Ungkapnya kepadaku.
“Sudah pulang sajalah” Timpalnya lagi.
Aku hanya terdiam kaku. Perasaanku semakin galau.
“Biarkan aku masuk Bu. Ada yang ingin kukatakan pada Ibu ” Tukasku dengan sedikit gemetar.
Lalu tanpa basa-basi lagi, walaupun belum mendapatkan persetujuan, kupaksakan kakiku melangkah ke dalam rumah.
“Ya sudah…sekarang cepat katakan! Setelah itu cepatlah keluar!”
“Bu, berikan aku kesempatan untuk mencintai Ibu. Ibu adalah wanita pertama yang mengisi hatiku Bu. Walaupun umur kita berbeda jauh, aku tak peduli. Aku berharap bisa menjadi pendamping Ibu.”

Mendengar responsku itu, tampaknya Bu Hany semakin bertambah marah. Mukanya merah padam. Aku tahu ia marah besar. Aku juga sadar, aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang pelajar kelas XII SMA yang belum tahu kemana masa depannya.
“Oke….Kalau Adit benar-benar mencintai Ibu, tunjukkan kepada Ibu kalau Adit layak untuk Ibu pertimbangkan”
Mendengarnya, aku sangat bahagia. Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan kekasih yang kucintai. Untuk itu, aku harus berjuang dengan keras. Kubulatkan tekadku dan kuberjanji akan berubah seperti yang diharapkan Bu Hany.
*****************
“Tok…tok…tok…” Suara ketukan pintu. Masih pintu yang sama. Rumah Bu Hany. Tapi kali ini beberapa hal telah berubah. Selepas tamat sekolah, aku memutuskan untuk menyendiri selama beberapa bulan. Selama itu, aku berhenti total bergaul dengan teman-teman seusiaku. Alasannya sederhana, aku berpikir selama aku masih bergaul dengan seusiaku, aku tak akan pernah menjadi dewasa. Dewasa dalam berpikir, maupun dalam bersikap.
“Kau yakin mau melakukan itu Dit?” Begitu respons yang diberikan teman-temanku.
Ya! Memang begitu banyak pertentangan yang aku terima. Aku paham dan aku bisa mengerti atas sikap mereka itu.
“Hanya saja aku terlanjur mencintai Bu Hany. Aku sungguh mencintainya. Untuk membuktikan cintaku itu, aku rela mengorbankan apa saja, termasuk masa remajaku.” Pikirku.
Beberapa bulan, aku juga mengikuti kursus kepribadian. Harapannya, setidaknya aku mampu memperbaiki pribadiku seperti lelaki dewasa. Hasilnya sungguh efektif. Penampilan, Pemikiran, sikap, gaya, dan pemikiranku kini 90% menjadi dewasa. Mungkin sama dewasanya dengan pria usia 30 tahunan. Namun tak cukup sampai di situ. Aku tahu, aku harus berjuang untuk memiliki masa depan yang jelas; masa depan yang cerah dan mapan. Agar kelak, seandainya kami menikah, aku bisa membahagiakan Bu Hany.
Setahun selepas kumenamatkan sekolahku, kebetulan Pertamina, yang merupakan BUMN terbesar di bidang pengolahan Migas membuka lowongan pekerjaan untuk posisi operator. Aku pun bertaruh mati-matian mengikuti setiap tahapan tesnya. Aku belajar dengan giat dan tak lupa pula berdoa. Hingga tiba pengumuman final, ternyata aku diterima menjadi karyawannya.
“Eh…Kamu Dit. Masuklah! ” Tukas Bu Hany kepadaku.
 Aku pun segera masuk ke rumahnya. Sampai di ruang tamu, kami berdua hanya duduk terdiam. Baik aku maupun dia tak kuasa berkata sepatah kata pun. Beberapa menit kemudian, kuberanikan untuk memulai mengatakan niatanku padanya. Namun, belum sempat aku berkata, Bu Hany tiba-tiba berkata.
“Tidak Dit…Jangan sekarang. Kalau Adit benar-benar mencintai Ibu, tunggulah Ibu tiga tahun lagi ” Ungkapnya.
Aku kembali terdiam. Perasaan bahagia sekaligus kecewa menggelayutiku. Bahagia pada akhirnya aku punya harapan besar untuk menjadi pendampingnya. Kecewa karena aku harus menunggu tiga tahun lagi. Ya! Belakangan aku tahu, Bu Hany ternyata sedang melanjutkan strata-2 di jurusan Pend. Matematika.


  


[1] Praktik Pengalaman Lapangan: Matakuliah wajib yang harus ditempuh mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Puisi



Zaman Lancang
Oleh Alamsari

Ini zaman, zaman lancang
Segala sesuatunya bermain lancang
Bumi mau jadi langit, lancang
Siang hendak menghapus malam, lancang
Tak mungkin rembulan menjadi mentari kan? Lancang
Namun angin terkadang lancang membelai alam yang begitu kaku
Waktu lancang menyolong impian
Pria serupa wanita, lancang
Anak mengangkangi ibunya, lancang
Rakyat membangkangi pemimpinnya, lancang
Sang miskin mengemis pada sang kaya, lancang
Akal melunturkan nurani, lancang
Kejahatan membasmi kebaikan, lancang
Tidak memberikan haknya, lancang
Manusia telah lancang pada matanya, telinganya, lidahnya, tangan dan kakinya, pun pada hatinya
Hamba telah lancang pada Tuhannya
Namun Tuhan tidak lancang turunkan azabnya

Palembang, 27 Februari 2013

Cerpen Anak

Biarkan Aku Bebas
Oleh Alamsari, M. Pd
(Guru SMPN 4 Rantau Panjang, Ogan Ilir)
Hari Minggu yang cerah, aku bangun pagi-pagi sekali. Kubuka jendela kamarku dan kulihat ternyata mentari sudah terbit. Sungguh cerah cahayanya. Udara pagi itu pun juga sungguh segar.
“Asyik, sebentar lagi berangkat.” Ucapku Dalam hati. Cepat-cepat aku mandi. Tak lupa juga kugosok gigi. Sehabis mandi, kupakai baju yang sangat cantik.
“Cindy, ayo kita berangkat.” Ajak Mamaku.
Hari ini, aku dan Mama serta Papaku akan berjalan-jalan ke kebun bintang. Aku sangat senang sekali. Sejak umur lima tahun aku sudah menyukai binatang. Tak heran di rumahku aku mempunyai banyak sekali binatang peliharaan. Aku punya dua ekor kelinci yang cantik. Kelinciku kuberi nama Resti dan Hesti. Di lehernya kulekatkan pita putih bergaris merah seperti benderaku di sekolah. Aku juga punya kura-kura yang sangat lucu. Kura-kuraku namanya Rico. Dia sangat gagah, lincah, dan gesit sekali. Burung peliharaanku juga sangat cantik. Marni namanya. Setiap pagi Marni selalu membangunkanku dengan suaranya yang merdu. Aku sangat menyayangi binatang peliharaanku itu. Kuberikan mereka kandang yang sangat bagus sebagai tempat tinggal. Setiap hari mereka juga kuberikan makan makanan yang sehat dan bergizi.
Kebun binatang yang kami tuju, letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Jaraknya sama seperti tiga puluh kali putaran lapangan sepak bola dengan mengendarai sepeda. Tepat pukul 10.00 WIB aku dan kedua orang tuaku pun tiba di kebun binatang itu.
“ Ayo Ma, Pa, cepet kita masuk ke dalam”
Aku sunguh riang tak terkira. Sambil berlari-lari dan sedikit bernyanyi-nyanyi, aku segera menuju ke tempat binatang-binatang yang ada di sana.
“ Wah, lihat Ma, binatangnya banyak sekali”
Binatang yang ada di sana memang banyak sekali. Ada yang besar dan ada yang kecil. Ada yang panjang dan ada juga yang pendek. Ada yang terbang dan ada juga yang merayap. Segera saja aku memulai petualanganku melihat-lihat binatang itu satu per satu.
Aku sampai di kandang kura-kura. Kura-kuranya sangat banyak sekali. Warnanya juga bermacam-macam. Ada yang leher panjang ada juga yang lehr pendek.
“Hai kura-kura!” Sapaku
Tiba-tiba sang kura-kura berbicara
“Hai Cindy!” Jawab sang kura-kura.
Aku sangat terkejut mendengarnya.
“Hai kura-kura kenapa kamu bisa bicara” Tanyaku pada sang kura-kura.
“Ya Cindy, aku sebenarnya bisa bicara tetapi hanya pada anak-anak sepertimu saja”
Aku menjadi bingung dan sedikit takut. Baru kali ini ada binatang yang bisa berbicara.
“Hei Cindy, bisakah kau membebaskan aku dari kandang ini?” Pinta sang kura-kura.
“Kenapa kura-kura? Bukankah Engkau senang tinggal di sini?”
“Tidak Cindy. Aku tidak senang tinggal di sini. Di sini aku tidak bisa bergerak bebas. Aku ingin hidup di alam yang luas Cindy”
Tiba-tiba ibuku memanggilku.
“Cindy, sini nak. Lihat Kelincinya sangat lucu sekali”
Aku pun segera menuju ke tempat ibuku.
“Wah, ya Bu, kelincinya cantik-cantik dan lucu-lucu sekali.”
Ketika aku sedang asyik menatap sang kelinci, tiba tiba kelinci itu memanggilku.
“Hai Cindy, bisakah kau bebaskan aku dari sini?” kata sang kelinci.
Mendengar suara sang kelinci aku sangat terkejut.
“Wah, kau bisa bicara kelinci?” Tanyaku
“Ya Cindy. Aku bisa bicara tetapi hanya pada anak-anak sepertimu”
“Cindy, bisakah kau bebaskan aku dari sini?” Pinta sang kelinci
“Kenapa kelinci, bukankah kau senang tinggal di sini?” Jawabku.
“Tidak Cindy, aku tidak senang tinggal di sini. Tempatnya sempit. Aku tidak bisa bermain bebas. Aku ingin melompat-lompat bergerak ke sana kemari tanpa ada pembatas seperti jeruji besi ini” Kata sang kelinci.
Tiba-tiba ibuku memanggilku lagi.
“Cindy, lihat burung ini lucu sekali”
Cepat-cepat aku menuju ke tempat ibuku yang sudah menungguku di dekat sangakar burung.
“Wah, ya bu, burung-burungnya cantik-cantik sekali. Mirip dengan Marni ya Bu”
Tiba-tiba dari atas terdengar suara yang memanggil.
“Cindy…Cindy… Bisakah kau membebaskan aku”
Aku terkejut. Lalu kutengok ke atas dan ternyata kulihat yang memanggilku adalah seekor burung yang sedang bergelayutan di atas dahan.
“Hai burung! Kenapa kau minta dibebaskan? Bukankah sangkarmu luas dan bagus. Setiap hari kau juga bisa makan yang enak” Kataku pada sang burung.
“Tidak Cindy. Aku tak nyaman berada di sini. Aku ingin hidup di alam yang luas. Beterbangan dari satu pohon ke pohon yang lain dan dari dahan yang satu ke dahan yang lain tanpa dibatasi oleh sangkar ini”
Belum sempat kuberkata pada sang burung, ibuku telah memanggilku.
“Cindy, ayo kita pulang nak”
Ternyata tanpa terasa sudah tiga jam aku berada di sana. Segera saja aku dan kedua orang tuaku pulang ke rumah.
“Bu, apakah binatang-binatang yang ada di kebun binatang itu senang tinggal di sana bu?” tanyaku pada ibuku.
“Tentu saja Cindy. Mereka senang tinggal di sana. Tetapi mereka akan lebih senang lagi jika bisa hidup di alam luas” Kata ibuku.
Aku terdiam lalu merenung sejenak. Aku teringat pada Rasti, Hesti, Rico, dan Marni. Aku kini bisa memahami perasaan mereka. Aku tahu, pasti mereka tidak begitu senang tinggal di kandang yang kubelikan itu. Aku sadar, binatang juga punya hak yang sama dengan anak-anak sepertiku. Mereka berhak bermain, bernyanyi, bergerak ke sana kemari di alam bebas tanpa ada yang membatasi. Sama juga seperti anak-anak sepertiku. Aku juga ingin bermain, bercanda riang, melompat kesana-kemari sesuka hatiku. Aku berjanji, nanti sesampainya di rumah, aku akan melepaskan mereka ke alamnya masing-masing sebab aku sangat menyanyangi mereka. Aku ingin melihat mereka gembira. Aku yakin mereka akan sangat senang kembali ke alamnya.

Puisi



Taubat
Oleh Alamsari

Sebilah belati menghujam dalam-dalam                                                   
Mengoyak rajutan kesabaran
Luka menganga
Diri lebam sehitam-hitam
Jiwa berkelebat mungkar
Setan bisikkan kalimat ingkar

Belati mencabik begitu dalam
Menembus batas nalar dan islam
Menumpahkan segala iman
Aku diombak murka
Hidupku sebatang kara, jera

Tuhan tak diam saja
Dititipkan aku pada segaris takwa
Mengoles jiwa-jiwa berdosa
Lafaz pertaubatan tertumpah
Jiwa berlabuh di langit yang tujuh
Menggelepar malu dihadapan-Nya
Mengemis untuk berpeluk dalam fitrah

Indralaya, 26 Februari 2013