AKU SEORANG GURU
Alamsari
Pagi
itu udara begitu menggigilkan badanku. Dengan mata yang masih terpejam,
terseok-seok aku bangkit dari tempat tidur. Entah mengapa, pagi itu aku sungguh
merasa malas untuk beranjak. Namun aku harus memaksakan diri. Sebentar lagi aku
harus masuk kerja.
Aku segera mandi. Kupakai seragam
kuning kaki. Tak lupa kusemprotkan
sedikit wewangi. Aku pun siap berangkat.
“Din, Mas berangkat ya” ucapku pada istriku yang
dari tadi kulihat hanya duduk termangu di depan lawang dapur rumah.
Sejak bangun tidur, kuperhatikan ia
tak beranjak dari sana. Raut wajahnya kusam. Nampaknya ada sesuatu yang tidak
mengenakkan hatinya. Namun aku tak berani menyapa. Aku takut semakin menambah
kerunyaman paginya.
Dengan sepeda motor butut, aku
melaju meninggalkan istriku sendirian di rumah. Pagi itu jalanan cukup
lengang. Belum banyak kendaraan yang lalu lalang. Ya! Nanti, ketika mentari
sudah agak meninggi barulah jalanan itu akan sesak dengan ribuan mobil dan
motor yang berbaur menjadi satu. Melewati istana
gubernur, kulihat spanduk
bertebaran dimana-mana.
“Nampaknya akan ada demo sebentar
lagi” tuturku dalam hati.
Ya! Memang istana gubernur kerap menjadi tempat yang
tepat bagi kebanyakan kaum minoritas untuk beraspirasi. Mencurahkan keluh
kesahnya. Berharap pemimpin atau siapapun akan bersimpati atau peduli pada
nasibnya yang kurang beruntung itu.
***
