Selamat Datang di www.pengingatku.blogspot.com

Thursday, 13 November 2025

Ayo Kelola Emosi Siswa Anda

Kelola Emosi merupakan bagian dari seri 7 Jurus BK Hebat yang disusun oleh Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Modul ini dirancang untuk membantu guru BK dan guru non-BK dalam menerapkan bimbingan langsung di kelas, agar murid mampu mengenali dan mengelola emosi serta stres akademik secara sehat. Fokus utamanya adalah membangun kesejahteraan emosional murid melalui pembelajaran sosial emosional (SEL) yang terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar.

Modul ini menjelaskan konsep dasar Social Emotional Learning (SEL) yang terdiri dari lima kompetensi utama: kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self-management), kesadaran sosial (social awareness), keterampilan berelasi (relationship skills), dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision-making). Guru diajak memahami bahwa emosi berperan besar dalam suasana belajar; hubungan yang hangat dan lingkungan kelas yang positif menjadi kunci bagi pembelajaran yang bermakna. SEL tidak hanya mengajarkan murid untuk “pandai berpikir”, tetapi juga “pandai merasakan” dan “pandai bersikap”.

Salah satu kerangka penting dalam modul ini adalah konsep EMC² (Empathy, Mindfulness, Compassion, dan Critical Inquiry). Melalui empati, guru dapat memahami perasaan murid; melalui mindfulness, guru belajar menyadari diri dan menenangkan pikiran; compassion membantu membangun kepedulian tanpa terbawa emosi; dan critical inquiry melatih kemampuan berpikir kritis dalam memahami persoalan sosial dan emosional. Dengan menerapkan keempat elemen ini, guru dapat menciptakan kelas yang lebih manusiawi, reflektif, dan penuh rasa saling pengertian.

Bagian yang menarik dari modul ini adalah panduan teknik konkret dalam pengelolaan emosi, seperti Peta Emosi, Brain in The Palm (Otak di Kepalan Tangan), Roda Pilihan (Wheel of Choice), dan rumus TANYA (Terima, Amati, Nikmati, Yakini, Aksi). Melalui berbagai teknik tersebut, murid belajar mengenali, menamai, dan menyalurkan emosinya dengan cara yang konstruktif. Pendekatan ini menumbuhkan kemampuan reflektif dan tanggung jawab personal — bukan menekan emosi, tetapi mengubahnya menjadi kekuatan positif untuk berpikir dan bertindak lebih bijak.

Akhirnya, buku Kelola Emosi menekankan pentingnya kolaborasi antara guru dan guru BK dalam menumbuhkan kompetensi sosial emosional di sekolah. Kolaborasi ini mencakup perencanaan program terintegrasi, pendampingan murid, kegiatan ekstrakurikuler bernuansa SEL, serta evaluasi perkembangan emosi murid secara berkelanjutan. Dengan memahami dan menerapkan isi modul ini, guru tidak hanya menjadi pengajar yang kompeten, tetapi juga fasilitator yang membantu murid tumbuh menjadi individu yang sadar diri, peduli, dan mampu mengelola emosi secara sehat dalam setiap aspek kehidupannya.

Bagi Anda yang ingin mengelola emosi siswa Anda agar pembelajaran di kelas menjadi lebih kondusif silakan download buku di link berikut:

Buku Kelola Emosi

Kenali Potensi

Kenali Potensi merupakan bagian dari seri 7 Jurus BK Hebat yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Modul ini ditujukan bagi guru BK dan guru non-BK agar mampu membantu murid mengenali potensi, minat, dan bakatnya melalui teknik asesmen sederhana. Tujuan utamanya adalah agar guru dapat memfasilitasi pengembangan potensi murid secara maksimal, baik untuk pembelajaran maupun orientasi karier di masa depan.

Salah satu konsep kunci dalam modul ini adalah teori kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences) dari Howard Gardner, yang menjelaskan bahwa setiap anak memiliki beragam jenis kecerdasan seperti linguistik, logis-matematis, visual-spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Dengan memahami keragaman ini, guru dapat menyesuaikan strategi pembelajaran yang lebih personal dan inklusif. Setiap anak dianggap “cerdas” dalam bidangnya masing-masing, sehingga tidak ada murid yang dianggap gagal hanya karena tidak unggul dalam bidang akademik tertentu.

Modul ini juga menguraikan pentingnya pemahaman gaya belajar (visual, auditori, dan kinestetik) sebagai dasar penerapan pembelajaran terdiferensiasi. Guru diajak untuk mengenali cara belajar setiap murid agar proses pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan. Pendekatan ini menekankan bahwa tidak semua murid belajar dengan cara yang sama — ada yang lebih mudah memahami informasi melalui gambar, ada yang melalui pendengaran, dan ada pula yang harus melakukan praktik langsung.

Selain itu, buku ini memperkenalkan tes RIASEC dari John Holland untuk membantu murid mengenali minat karier berdasarkan enam tipe kepribadian: Realistik, Investigatif, Artistik, Sosial, Enterprising, dan Konvensional. Melalui asesmen ini, guru BK dapat membantu siswa memahami kecenderungan minat dan mengarahkannya pada pilihan karier yang sesuai dengan kepribadian serta kekuatan mereka. Pendekatan ini sangat penting untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu merencanakan masa depan secara sadar dan realistis.

Sebagai langkah praktis, modul menyediakan panduan penggunaan dua aplikasi digital, yaitu MI-Web untuk mengidentifikasi kecerdasan majemuk dan Karir Inklusi untuk memetakan minat karier. Kedua alat ini membantu guru dan siswa dalam melakukan asesmen berbasis teknologi yang mudah diakses. Melalui kegiatan refleksi, guru diarahkan untuk menindaklanjuti hasil asesmen menjadi rencana pengembangan diri dan karier murid. Dengan demikian, Jurus 1 – Kenali Potensi tidak hanya menjadi panduan teoritis, tetapi juga sarana nyata untuk membangun pendidikan yang berpihak pada potensi dan kekuatan setiap anak.

Bagi Anda yang mau mendowload buku tersebut untuk Anda gunakan dalam melaksanakan tugas, silakan unduh pada link berikut.

Buku Kenali Emosi

Kumpulan Ebook Pendidikan Growth Mindsett

Growth mindset dalam pembelajaran mendalam menjadi fondasi penting bagi peserta didik untuk terus berkembang dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan belajar. Dengan memiliki pola pikir berkembang, siswa meyakini bahwa kemampuan mereka tidak bersifat tetap, melainkan dapat ditingkatkan melalui usaha, strategi yang tepat, dan pembelajaran dari kesalahan. Guru berperan penting dalam menumbuhkan mindset ini dengan memberikan umpan balik konstruktif, mendorong refleksi diri, serta menciptakan lingkungan belajar yang menghargai proses, bukan hanya hasil. Pendekatan ini membuat peserta didik lebih berani mencoba, berpikir kritis, dan terbuka terhadap gagasan baru.

Dalam konteks pembelajaran mendalam (deep learning), growth mindset menjadi kunci untuk mendorong keterlibatan aktif dan rasa ingin tahu yang tinggi. Siswa tidak sekadar menghafal, tetapi berupaya memahami konsep secara menyeluruh dan menghubungkannya dengan pengalaman nyata. Mereka terbiasa mengajukan pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana,” sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan reflektif. Ketika menghadapi kesulitan, siswa dengan growth mindset melihatnya sebagai peluang untuk belajar lebih dalam, bukan alasan untuk berhenti. Dengan demikian, penerapan growth mindset membantu mewujudkan pembelajaran yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga karakter pembelajar sejati yang adaptif, gigih, dan mandiri sepanjang hayat.

Bagi Anda yang ingin mendalami tentang growth mindsett ini dapat mempelajari dari buku berikut.

DOWNLOAD BUKU


Monday, 20 November 2023

Menciptakan Iklim Merdeka Belajar di Sekolah

 


Merdeka belajar sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Pendidikan merupakan salah satu terobosan baru dalam upaya mengatasi rendahnya kualitas pendidikan. Hasil Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2018 menempatkan pendidikan Indonesia pada peringkat 72 dari 78 negara. PISA digunakan untuk mengevaluasi sistem pendidikan suatu negara dengan mengukur kinerja siswa dalam tiga bidang, yakni matematika, sains, dan literasi. Sebuah kondisi yang cukup memprihatinkan mengingat dari tahun ke tahun, hasil PISA Indonesia tidak kunjung memberikan hasil yang membaik. Padahal sebagai negara yang besar dan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, Indonesia seharusnya mampu bersaing dengan negara-negara di dunia, utamanya dengan negara tetangga. Berdasarkan hal tersebutlah, Mas Menteri Nadiem akhirnya mengeluarkan empat program pokok pendidikan dikenal dengan istilah merdeka belajar.

Kegiatan pembelajaran menjadi salah satu fokus pembenahan yang termaktub dalam istilah merdeka belajar tersebut. Selama ini kegiatan pembelajaran dianggap belum merdeka dan kenyataannya memang belum "merdeka". Contoh sederhana—banyak pembelajaran di kelas yang belum kreatif. Pembelajaran bersifat kaku—hanya sekedar transfer informasi dengan sedikit interaksi berarti. Guru-guru mengajar dengan gaya yang monoton tanpa ada aktivitas pembelajaran yang mengasyikkan. Guru mengajar tanpa kreatifitas—hanya mengejar penyampaian materi untuk mencapai indikator pencapaian kompetensi. 

Ketika ditanya kepada siswa, apa arti sekolah bagimu? Mereka dengan lantang menjawab bahwa sekolah adalah tempat untuk belajar. Hanya tempat belajar. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan di sekolah selain belajar. Sekolah dapat menjadi tempat bermain yang menyenangkan, tempat bersosialisasi dan berkomunikasi, tempat berinovasi dan berkreasi. Sekolah harusnya menjadi tempat yang nyaman selayaknya rumah kedua bagi anak dan bukannya justru menjadi tempat yang menakutkan. Harus jujur diakui—saat ini betapa banyak siswa yang lebih senang jika kelasnya kosong karena guru tidak hadir di sekolah. Mereka lebih senang jika hari libur tiba. Siswa lebih senang jika sekolah pulang cepat, dan lain sebagainya.

Merdeka belajar memang terlahir berawal dari hal sedemikian. Ruang-ruang kelas dianggap tidak hidup. Aktivitas pembelajaran belum memiliki ruh. Guru dan siswa hanya sekedar melaksanakan aktivitas seremonial dan rutinitas biasa tanpa bermakna. Ruh pembelajaran itulah yang sebenarnya menjadi kunci dari merdeka belajar. Lalu bagaimanakah upaya menciptakan iklim merdeka belajar tersebut? Setiap guru pada prinsipnya harus mampu merancang aktivitas merdeka belajar. Untuk itu, beberapa hal yang dapat dilakukan, yakni melakukan pengaturan kelas, penggunaan media atau metode, dan merancang aktivitas pembelajaran.

Sudahkah Pendidikan Kita Merdeka?

 


Pendidikan yang merdeka harus diawali dari kemerdekaan dalam belajar. Anak didik dilahirkan dengan membawa kodrat yang beragam. Guru ibarat petani dan anak didik umpama benih. Tugas guru adalah menuntun dan mengarahkan agar anak tidak tersesat.”

Pada masa kolonial Belanda, pendidikan diselenggarakan sebagai misi terselubung untuk mendapatkan timbal balik yang menguntungkan bagi penjajah. Rakyat Indonesia hanya diberikan pengajaran berupa keterampilan dasar seadanya, seperti membaca, menulis, dan berhitung untuk selanjutnya dijadikan sebagai pekerja yang membantu usaha dagang Belanda dan antek-anteknya. Pada tahun 1922, Taman Siswa yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara lahir sebagai wujud kemerdekaan dan kebebasan rakyat Indonesia dalam pendidikan. Ki Hajar Dewantara membawa semangat baru dalam fase pendidikan Indonesia yang lebih merdeka.
Tujuan pendidikan nasional adalah untuk menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Penyelenggaraan pendidikan menjadi fondasi dasar untuk mewujudkan cita-cita luhur itu. Menyadari pentingnya arti pendidikan tersebut, pemerintah menaruh perhatian serius dalam upaya memajukan pendidikan Indonesia semakin bermutu dan berdaya saing global melalui program merdeka belajar.
Apakah pendidikan kita sudah merdeka? Pertanyaan menggelitik sebenarnya. Secara harfiah memang pendidikan Indonesia sudah terbebas dari penjajahan, tetapi secara maknawi masih banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Pada kenyataanya, pendidikan Indonesia masih belum merdeka dalam belajar. Selama ini guru terjebak dalam aktivitas membuat administrasi pembelajaran yang kompleks dan menyita pikiran dan waktu. Skenario pembelajaran yang dibuat pada praktiknya tidak terlaksana dengan baik dikarenakan guru tertekan target pencapaian kompetensi anak didik yang pada akhirnya hanya diukur kelulusannya melalui ujian nasional. Anak didik dipaksa untuk belajar secara seragam tanpa mempertimbangkan keberagaman kemampuan. Pelaksanaan pembelajaran di kelas menjadi tidak menarik dan terkungkung dalam penjara kurikulum.

IDENTIFIKASI POTENSI MELALUI KEGIATAN LITERASI: PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENYIAPKAN SISWA UNGGUL MENUJU INDONESIA MAJU BERMUTU

            Setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi. Potensi yang dimiliki anak sangat beragam. Potensi merupakan kemampuan dasar yang berkemungkinan untuk dikembangkan1. Upaya mengembangan potensi pada anak perlu dilakukan sedini mungkin. Tujuannya adalah untuk menjadikan potensi tersebut berkembang menjadi kompetensi. Untuk itulah, identifikasi potensi pada peserta didik harus dilakukan.

Identifikasi potensi dapat dilakukan oleh individu itu sendiri. Namun sangat disayangkan, tidak sedikit peserta didik yang justru kesulitan untuk mengenali potensi yang dimilikinya. Dalam studi yang saya lakukan di sekolah tempat saya bertugas, hampir 80 persen peserta didik justru belum mengetahui potensi apa yang dimilikinya. Peserta didik adalah makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut potensi (kemampuan) masing-masing dan memerlukan bimbingan dan pengarahan serta pendampingan yang konsisten menuju ke arah titik optimal potensinya2. Oleh karena itulah, identifikasi potensi perlu dilakukan oleh pihak sekolah untuk membantu peserta didik menemukan potensinya dengan lebih cepat. Salah satu cara untuk melakukan identifikasi terhadap potensi peserta didik adalah dengan melalui kegiatan literasi di sekolah.

Untuk melaksanakan identifikasi potensi melalui literasi tersebut, pihak sekolah harus merancang aktivitas literasi yang berbasis pada identifikasi potensi. Ada banyak kegiatan literasi yang dapat dilaksanakan di sekolah, misalnya aktivitas membaca selama 15 sampai 30 menit sebelum memulai pembelajaran. Perpustakaan sekolah sebagai basis kegiatan literasi memiliki peran besar dalam upaya menciptakan iklim literasi di lingkungan sekolah. Melalui aktivitas membaca 15 sampai 30 menit diharapkan membawa dampak yang cukup signifikan terhadap peningkatan kualitas diri peserta didik.

Kegiatan literasi di sekolah pada hakikatnya dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi potensi. Kegiatan literasi di sekolah bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik yang meliputi kecerdasan intelektual, emosional, bahasa, spiritual, dan estetika.3 Melalui kegiatan literasi, sekolah mampu mengetahui potensi apa saja yang ada pada peserta didik. Hal tersebut sangat penting guna membantu sekolah dalam merencanakan tindak lanjut bagi peserta didik sehingga mampu mendorong pengembangan potensi menjadi lebih optimal.

Monday, 21 February 2022

Dilema Etika

Dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, tentu kita tidak luput dari dilema etika. Apa itu dilema etika? Dilema etika adalah pertentangan batin antara sesuatu yang benar dihadapkan pada hal lain yang juga benar dalam sudut pandang tertentu. 

Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai perilaku yang layak harus dibuat (Arens dan Loebbecke, dikutip oleh Eko Suhascaryo)

Lebuh lanjut Eko Suhascaryo memberikan contoh situasi yang sering kali memunculkan dilema, yakni sebagai berikut. 

Ini untuk tujuan baik, atau di akhir membenarkan caranya.

Hal ini akan menggoda untuk mengambil jalan pintas dalam melakukan pengambilan keputusan ketika hasil akhirnya akan menjadi hal yang baik.

Loyalitas ganda.

Banyak orang merasa memiliki kewajiban untuk mempromosikan kepentingan dari kelompok atau teman khususnya. Ini dapat menjadi tidak etis ketika meluas ke memastikan bahwa keuntungan untuk kelompok atau individu khusus dengan mengorbankan kelompok atau individu lainnya.

Penyembunyian.

Kita semua sering kali menghindari memberikan umpan balik yang negatif atau mengungkapkan pendapat yang orang lain tidak akan suka, karena kita peduli tentang perasaan orang atau kita tidak ingin menyinggung perasaan orang lain.

Namun, tidak jujur ​​adalah tidak menghormati, kuncinya adalah berbagi informasi negatif atau tidak setuju dengan orang lain dengan cara tetap berkomunikasi secara hormat.

Tak seorangpun akan tahu.

Kita mungkin akan memaafkan perilaku yang tidak memenuhi standar etika karena “tidak ada yang akan dirugikan”.

Menggunakan posisinya untuk mempengaruhi hal-hal yang kurang sesuai kepada bawahan/staf, meminta bantuan khusus atau fasilitas, atau berbagi informasi rahasia kepada orang lain mungkin tampak mudah dan tidak berbahaya, tetapi etika kepercayaan dilanggar.

Semua orang melakukannya.

Ketika banyak orang lain bertindak dengan cara-cara yang tidak etis, bukanlah izin bagi kita untuk juga berperilaku yang tidak etis.

Praktek atau sistem di beberapa organisasi dan kelompok mungkin begitu mendarah daging bahwa mereka tampaknya dapat diterima bahkan jika mereka secara etika dipertanyakan. Pemimpin etis akan selalu mengevaluasi perilakunya terhadap kode etik.

Tuesday, 24 August 2021

Mengembangkan Bakat Anak

 

 

“Di usianya yang masih muda, anakku menjadi juara satu. Dia mengikuti lomba membaca puisi yang diadakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyuasin. Setiap tahun, acara serupa selalu diadakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.”

 

Bakat anakku dalam membaca puisi sudah terlihat sejak dini. Ketika itu aku sedang membaca buku kumpulan puisi karya Taufik Ismail. Iseng kuberikan buku itu ke anakku yang masih berusia enam tahun. Kuminta dia membacakan satu puisi. Anakku membacakannya dengan variasi intonasi yang menurutku cukup baik. Padahal dia baru sekali membaca puisi yang cukup rumit itu. Beberapa waktu kemudian, kuminta dia membacakan puisi lainnya. Anakku menunjukkan kemampuan yang sama seperti sebelumnya. Sejak itulah, aku berpikir mungkin ini adalah bakat terpendam anakku yang harus dikembangkan.

Sejak usia tiga tahun saat anakku sudah bisa berbicara—aku selalu mengajaknya membuat puisi bersama. Ketika melihat bunga, menatap rembulan, atau merasakan desir angin—aku membuatkannya puisi lalu memintanya untuk mengulangi kembali. Mungkin karena itulah anakku menjadi terbiasa dengan puisi.

Di usia tujuh tahun, iseng aku menyuruh anakku menulis puisi yang mendeskripsikan objek sederhana. Ketika aku membacanya, aku takjub dengan kemampuannya menulis puisi itu. Menurutku hasil karyanya cukup bagus karena aku tahu tidak setiap anak seusianya bisa menulis puisi. Anak di jenjang SMP saja terkadang masih belum bisa membuat puisi. Untuk itulah aku berupaya mengembangkan bakat puisinya itu.

Suatu hari wali kelas menghubungiku untuk menyuruh anakku mewakili sekolah dalam lomba membaca puisi. Aku menyambut maksud tersebut dengan rasa bahagia. Tidak setiap anak bisa beruntung mewakili sekolah dalam ajang lomba. Segera saja kuminta anakku menulis puisi dengan tema lingkungan. Selanjutnya puisi itu kami sunting bersama.

Esoknya kuminta anakku berlatih membaca puisi. Dia pun berlatih seharian. Lalu kami memulai rekaman. Hasil rekaman tersebut kuserahkan kepada pihak sekolah untuk selanjutnya dikirimkan ke panitia lomba. Aku tidak memikirkan menang atau kalah. Hal yang terpenting adalah memberikan kesempatan baginya untuk berpartisipasi menunjukkan bakatnya.

Satu bulan menunggu. Tiba-tiba pesan whatsapp masuk. Wali kelas mengabarkan berita gembira. Anakku berhasil menjadi juara satu untuk jenjang sekolah dasar. Di usianya yang baru 8 tahun, anakku berhasil mengalahkan peserta lain yang berusia jauh di atasnya. Prestasi yang sangat membanggakan.

   

 

Wednesday, 19 May 2021

Masihkah Kamu Mau Mubazir?

 Masihkah Kamu Mau Mubazir?

(Alamsari)

 

Dokumen Pribadi

Masih ingat nestapa kehidupan dulu. Saya dibesarkan dalam keluarga dengan kondisi ekonomi lemah. Orang tua tidak berpunya. Untuk makan saja susah. Tidak jarang, Emak harus berutang ke warung. Makan sekali sehari sudah biasa bagi kami. Hanya makan nasi, ditaburi gula atau garam. Sesekali pakai kerupuk atau kemplang.

Pernah tetangga depan rumah mengadakan sedekah. Saya memanjat jendela, mengintip dari celah-celah—berdoa semoga Emak pulang membawa ayam. Saya sangat ingin memakannya. Bagi kami, ayam adalah makanan mewah. Suatu ketika saya melihat ada ayam di tanah. Saya mengambil ayam itu, mencuci lalu menyantapnya. Tidak hanya ayam, saya juga pernah makan pempek, bahkan buah pisang yang sudah dibuang ke tanah.

Saat libur sekolah, saya bersama kakak pergi ke rumah Uwak. Di sana, kami mengais sampah di TPA. Tidak hanya kami—ada banyak orang yang mencari rezeki di tumpukan sampah yang menggunung itu. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika kami mendapati banyak makanan sisa yang masih layak makan. Ada roti, macroni, ciki, coklat, serta banyak makanan lain yang belum pernah kami cicipi. Pernah, saya mengalami keracunan akibat makan coklat yang ditemukan di tempat pembuangan sampah. Keringat mengucur dan perut serasa mual. Untung saja, setelah muntah badan saya agak baikan.

Cerita saya adalah sekelumit dari banyak kisah sedih di luar sana. Di banyak tempat, jamak terlihat orang yang rela mengais makanan di sampah—untuk bertahan hidup. Miris memang! Di saat masih banyak yang kelaparan—sebagian besar orang justru “berhura-hura”. Mereka dapat makan apa saja—kalau kenyang tinggal buang ke sampah. Seolah membuta—tidak peka dengan bunyi keroncongan dari perut-perut tubuh ceking di antara kita.

 

Masalah Sampah Makanan di Indonesia

Sampah makanan menjadi masalah pelik bagi kita. Tahukah kamu, setiap tahun terdapat 13 juta ton sampah makanan di Indonesia. Jumlah tersebut setara dengan 500 kali berat monas; setara dengan jumlah makanan untuk 28 juta orang; dan setara dengan nominal 27 triliun rupiah. Coba bayangkan! Jumlah yang sangat besar bukan? Tidak mengherankan jika Indonesia menjadi peringkat kedua negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, setelah Arab Saudi.

Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2018—rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar, yakni sebesar 62%; pasar traditional 13%; pusat perniagaan 7%; kantor 5%; fasilitas publik 3%; dan sisanya 6% berasal dari sumber lainnya. Penelitian mengenai sampah makanan juga pernah dilakukan oleh Wulansari, dkk. Mereka melakukan penelitian terkait sampah makanan dari warung makan yang terdapat di Kabupaten Bogor. Dari hasil penelitiannya, didapatkan bahwa dalam satu tahun warung makan di Kabupaten Bogor menghasilkan sekitar 6.383 ton sampah makanan. Sekitar 70% sampah makanan tersebut didominasi oleh nasi sisa.

Di Indonesia—sampah makanan memang belum menjadi isu penting. Masih dianggap remeh sebagai hal sepele. Siapapun dapat menyantap makanan apapun yang mereka sukai. Mereka bebas makan sekenyang-kenyangnya. Namun, satu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan—andaikan makanan tersebut tidak habis, jangan pernah dibuang. Membuang makanan adalah perbuatan yang tidak mencerminkan karakter Pancasila. Tengoklah di sekitar kita—masih banyak orang miskin yang kelaparan. Bagi mereka, makanan adalah hal yang mewah. Sebagai manusia, harusnya kita memiliki empati kepada sesama. Menempatkan diri pada posisi mereka yang di bawah. Munculkan hati nurani. Jangan jadikan makananmu menjadi sia-sia.

Gaya Hidup Minim Sampah Makanan

Perilaku membuang sampah makanan (food waste behaviour) memang menjadi masalah serius bagi kita. Kesadaran akan pentingnya makanan bagi kehidupan masih sangat rendah. Bagi sebagian besar orang—makanan masih dianggap sebagai menu pemenuhan kebutuhan perut—tidak banyak yang memahami bahwa di balik hal tersebut terdapat esensi nilai atau norma yang patut dijunjung. Nilai atau norma tersebut berkaitan dengan etika atau tanggung jawab bahwasanya apapun makanan yang dimakan harus dapat dipertanggungjawabkan.  

Ketika saya kecil, Emak selalu berkata “Habiskan nasimu. Jangan dibuang. Nanti dia akan menangis.” Waktu itu saya hanya bertanya dalam hati, apakah benar nasi bisa menangis? Apakah ini hanya sebuah dongeng? Saya belum paham maksud dari perkataan Emak. Seiring waktu—barulah saya pahami bahwa apa yang Emak ucapkan dulu memiliki maksud mulia. Habiskan makananmu atau jangan dimakan sama sekali sebab ada banyak orang yang kelaparan di luar sana.

Perilaku membuang sampah makanan memang tidak sesuai dengan prinsip dasar kemanusiaan. Sayangnya, tidak banyak orang yang menyadari hal tersebut. Selain disebabkan oleh faktor lingkungan (sosiokultural)—perilaku membuang sampah juga erat kaitannya dengan kurangnya edukasi terhadap manfaat dan dampak sampah makanan tersebut. Untuk itu penting bagi kita menjadikan isu sampah makanan sebagai bagian sentral dalam kehidupan. Setiap individu wajib berpartisipasi aktif dalam mengurangi sampah makanan untuk kemaslahatan bersama.

Thursday, 26 November 2020

Stop Bullying Melalui Sekolah Ramah Anak

 

Stop Bullying Melalui Sekolah Ramah Anak


Alamsari, M.Pd.

(SMP Negeri 1 Indralaya Utara)



Sepanjang tahun 2019, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 153 pengaduan terkait kekerasan terhadap anak di sekolah. Lebih lanjut dikatakan bahwa sekitar 44 persen kekerasan di sekolah dilakukan oleh guru kepada siswa dan sebanyak 30 persen kekerasan dilakukan oleh siswa kepada siswa lainnya. Data tersebut patut menjadi perhatian kita semua mengingat bahwa aksi kekerasan kepada anak di sekolah masih terus terjadi dari waktu ke waktu.  

Salah satu upaya yang kami lakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak di sekolah adalah melalui program Sekolah Ramah Anak (SRA). Sejak tahun 2018, sekolah tempat saya bertugas telah ditetapkan sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA) oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir. Untuk mendukung Sekolah Ramah Anak (SRA) tersebut, sekolah kami melaksanakan berbagai kegiatan, diantaranya:

1.      Sosialisasi Kebijakan antikekerasan (bullying)

Kegiatan sosialisasi kebijakan antikekerasan dilakukan dengan cara memberikan pelatihan kepada guru dan siswa, serta memasang spanduk dan banner yang berisi ajakan stop bullying kepada anak.

2.      Kegiatan bimbingan konseling anak

Upaya penanganan anak-anak bermasalah oleh guru memang kerap berakhir dengan kekerasan baik verbal maupun fisik. Untuk itu, sekolah kami memaksimalkan layanan bimbingan dan konseling untuk membantu guru dalam mengatasi persoalan kenakalan anak di sekolah.

3.      Pembentukan tim pencegahan kekerasan di sekolah

Tim pencegahan kekerasan terhadap anak di sekolah menjadi bagian yang esensial. Tim pencegahan kekerasan tersebut bertugas untuk memantau dan memastikan tidak terjadi kekerasan baik verbal maupun fisik kepada anak di sekolah.

4.      Kegiatan penumbuhan potensi dan pembentukan karakter Anak

Salah satu cara untuk mengisi waktu di sekolah agar bermanfaat bagi anak adalah dengan cara mengadakan beberapa kegiatan penumbuhan potensi dan pembentukan karakter anak. Penumbuhan potensi anak dilakukan melalui kegiatan literasi baik buku maupun kitab suci, serta kegiatan pentas seni. Pembentukan karakter anak dilakukan melalui kegiatan pendidikan kepramukaan yang wajib diikuti oleh semua siswa di sekolah.

5.      Kegiatan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak atau instansi terkait masalah anak

Untuk lebih memaksimalkan keberhasilan program Sekolah Ramah Anak, sekolah kami menjalin kerjasama dengan berbagai instansi, diantaranya Polres Ogan Ilir, Badan Narkotika Nasional (BNN) Ogan Ilir dan Puskesmas Payakabung. Beberapa kegiatan yang dilakukan terkait kerjasama tersebut, yakni kegiatan konseling dan pencegahan tindak kekerasan anak oleh Polres Ogan Ilir, kegiatan penyuluhan penyalahgunaan narkoba, dan pemeriksaan kesehatan secara rutin oleh Puskesmas Payakabung.

6.      Pembentukan duta anak

Beberapa duta anak yang telah dibentuk di sekolah, yakni duta lingkungan, duta kebersihan, duta literasi, duta kesehatan, duta kejaksaan, dan duta antinarkoba. Duta anak tersebut bertugas untuk mengampanyekan program sekolah kepada sesama siswa di sekolah terutama untuk menyampaikan berbagai aktivitas atau kegiatan terkait upaya pencegahan terjadinya kekerasan kepada anak di sekolah.

 






Penyuluhan Polres Ogan Ilir



Melalui berbagai program yang dilaksanakan tersebut dapat membantu sekolah dalam mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak di sekolah. Sekolah sebagai rumah kedua memang sudah sepantasnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak. Melalui sekolah yang ramah terhadap anak, diharapkan dapat menjamin tumbuh dan kembang anak menjadi lebih maksimal dan berkualitas.  

#CerdasBerkarakter #BlogBerkarakter #AksiNyataKita #LawanKekerasanBerbasisGender #BantuKorbanKekerasan

                                          

 








Friday, 23 October 2020

Mondok: Cerminan Pemikiran dari Sudut Pandang Orang "Modern"

 

MONDOK:

CERMINAN PEMIKIRAN DARI SUDUT PANDANG ORANG “MODERN”

 

Banyak ragam perspektif pemikiran yang mendasari para orang tua tentang mengapa memasukkan anaknya mondok di pesantren. Sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, ternyata bagi kebanyakan orang “modern” momondokkan anak ke pesantren masih menjadi pilihan terakhir manakala mereka sudah menemui jalan buntu untuk mengatasi kenakalan anaknya. Pondok pesantren dianggap hanya sebagai tempat pelarian untuk mengatasi ketidakberdayaan orang tua dalam mendidik anaknya. Hal itu terekam dengan apik dalam film “Mondok” yang disutradarai oleh Dedi Setiadi. Film tersebut menceritakan seorang anak bernama Reyhan dengan kenakalan luar biasa. Karena kenakalannya itu, Reyhan dikeluarkan dari sekolah umum dan tidak ada lagi sekolah yang mau menerimanya. Pada akhirnya orang tua Reyhan memutuskan untuk memasukkan anaknya ke pondok pesantren dengan harapan agar kelakuan anaknya tersebut berubah.

Film Mondok juga menggambarkan bagaimana perspektif pemikiran orang “modern” yang menganggap pondok pesantren masih sebagai tempat pendidikan yang terbelakang dan kurang maju. Pondok pesantren masih dianggap hanya sebagai tempat untuk menempa anak menjadi fanatik terhadap agama dan meninggalkan dunia. Pemikiran seperti itu acap ditemui di tengah masyarakat kita utamanya bagi mereka dengan latar belakang ilmu agama yang masih kurang. Hal tersebut tergambar jelas dalam salah satu adegan di mana Ibu Reyhan merasa bimbang memasukkan anaknya ke pesantren karena takut anaknya menjadi teroris karena terlalu fanatik dengan agama.

Namun sangat disayangkan, beberapa adegan dalam film Mondok ternyata masih menunjukkan inkonsistensi karakter. Orang tua Reyhan digambarkan sebagai sosok yang memiliki status sosial tinggi, kaya, dan berpikiran maju atau modern. Akan tetapi, karakter tersebut justru menjadi bias (inkonsisten) sebagaimana terlihat pada adegan saat orang tua Reyhan mencari informasi mengenai pondok pesentren. Orang tua Reyhan berkeliling ke seluruh penjuru tempat dan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya mengenai pesantren mana saja yang mengajarkan musik kepada santrinya. Kelakuan orang tua Reyhan dalam film tersebut alih-alih mendukung karakter modern, justru menggambarkan kekolotan. Orang dengan pendidikan tinggi dan berpikiran modern tentu tidak akan mungkin memiliki kelakuan “udik” dalam hal mencari informasi mengenai profil sekolah (pesantren). Cukup dengan memanfaatkan teknologi (internet), segala informasi mengenai apapun dapat diakses dengan mudah dan cepat.

Inkonsistensi berikutnya ditunjukkan pada adegan saat orang tua Reyhan terkejut bahwa di pesantren, anaknya tersebut diharuskan salat Tahajud dan melakukan aktivitas mandiri lainnya, seperti mencuci piring dan baju. Mengapa bisa terkejut? Karena orang tua Reyhan tidak mengetahui aktivitas di pesantren tempat anaknya mondok. Mengapa mereka bisa tidak tahu? Bukankah sebagai orang yang “modern” dengan pendidikan tinggi, seharusnya segala informasi berkaitan dengan tempat pendidikan anak sudah diketahui sejak awal pendaftaran. Orang “modern” tentu akan bertanya sedetil mungkin mengenai segala fasilitas, termasuk aktivitas harian di pondok pesantren tersebut apalagi jika menyangkut masa depan pendidikan anaknya.

Terlepas dari inkonsistensi tersebut, film Mondok patut diapresiasi karena memberikan pelajaran bagi kita (orang tua) bahwasanya anggapan mendidik anak secara “Modern” berarti memberikan kebebasan tanpa batas untuk melakukan apa saja kepada anaknya—itu adalah pemikiran yang salah. Orang tua harus mengajarkan dengan jelas nilai-nilai kebaikan sehingga anak dapat tumbuh menjadi pribadi dengan moral atau akhlak yang baik.

Thursday, 15 October 2020

TANAH HARAPAN TANAH CITA-CITA

 

Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fberitadiy.pikiran-rakyat.com%2Fentertainment%2Fpr-70716238%2Fsinopsis-dan-trailer-film-tanah-cita-cita-pendidikan-yang-out-of-the-box-di-bima-ntb&psig=AOvVaw3mvCGocENxJZYX7k3cCROj&ust=1602859254580000&source=images&cd=vfe&ved=2ahUKEwiNzZyV6rbsAhWABrcAHYy4A7cQr4kDegUIARCMAQ
(Sumber: https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fberitadiy.pikiran-rakyat.com%)

TANAH HARAPAN TANAH CITA-CITA
(Alamsari)

Perubahan untuk menggapai masa depan dan asa. Itulah yang ingin disampaikan dalam film Tanah Cita-Cita. Film yang disutradarai Anton Mabruri (2016) menceritakan seorang kepala sekolah (Rayhan) di sebuah SD yang menginginkan perubahan di dalam metode pembelajaran. Siswa tidak harus belajar di kelas, tetapi mereka bisa belajar di mana saja. Menurut Rayhan metode pembelajaran konvensional  hanya membuat siswa jemu belajar sehingga tidak akan meningkatkan mutu pendidikan.

Perubahan yang dilakukan Rayhan mendapat banyak pertentangan. Dari kalangan internal—Adalah Asta Cita, seorang guru muda yang baru datang dari kota. Pada awal kedatangannya, Ibu Cita begitu kaget dengan kondisi sekolah, di mana anak-anak diberikan kebebasan dalam belajar. Ibu Cita berulang kali protes kepada Rayhan karena menurutnya metode pembelajaran seperti itu hanya membuat siswa menjadi tidak disiplin. Sebagai pemimpin, Rayhan berusaha menjelaskan dengan sabar. Tidak hanya itu, ia juga mempraktikan langsung metodenya itu. Rayhan meminta Ibu Cita mengikutinya bersama anak-anak untuk belajar di hutan, pantai, atau kebun. Di sana, Rayhan memberi materi pelajaran melalui cara yang menarik, misalnya meminta anak mengumpulkan dedaunan untuk menjelaskan mengenai klorofil atau mengajak anak membakar jagung sambil belajar sejarah. Seiring waktu, Ibu Cita akhirnya memberikan dukungan penuh kepada Rayhan karena menurutnya metode itu berhasil membawa perubahan.

Film Tanah Cita-Cita sebenarnya semakin menarik dengan adanya alur benturan budaya. Pacoa jara adalah tradisi unik sekaligus menjadi lambang martabat diri masyarakat Bima. Budaya pacoa jara dalam film Tanah Cita-Cita diwujudkan melalui sosok anak lelaki bernama Bima. Suatu waktu ketika Rayhan mengajak siswa belajar di hutan, Bima terjatuh dan kakinya terluka. Ayah Bima (Zainal) marah besar kepada Rayhan karena akibat kaki anaknya yang terluka itu, Bima tidak bisa latihan pacoa jara. Kemarahan Zainal kepada Rayhan semakin menjadi-jadi manakala termakan hasutan Nasrudin (Pak Kades). Nasrudin yang sejak awal sudah membenci Rayhan—menghasut Zainal dan orang tua siswa lainnya agar melakukan protes kepada Rayhan. Kebencian Nasrudin bermula dari gosip yang tersebar di desa bahwa Rayhan akan mencalonkan diri menjadi kades. Nasrudin tidak ingin Rayhan menjadi saingannya.

Namun sayang, benturan antara gagasan Rayhan dengan budaya setempat (pacoa jara) belum mampu digarap dengan baik. Akibatnya, banturan budaya tersebut hanya sekadar menjadi pemanis alur cerita. Ide sentral “perubahan” yang ingin ditunjukan dalam film ini, menjadi hambar dan antiklimaks. Padahal jika benturan budaya tersebut ditonjolkan sejak awal cerita, tentu film ini akan menjadi sangat menarik.

Kehambaran ide “perubahan” juga terlihat dalam salah satu adegan, dimana pada puncaknya Rayhan didatangi warga untuk dimintai pertanggungjawaban terkait ide apa yang ia terapkan di sekolah. “Saya ingin melahirkan inovasi baru. Sekolah sebagai taman belajar. Siswa datang dengan senang, belajar dengan riang, dan meninggalkan sekolah dengan berat hati.” Akan tetapi, pemikiran yang dilontarkan Rayhan dalam cerita tersebut harusnya belum mampu memantik konflik diantara keduanya. Mengapa? Karena ide briliant yang disampaikan dalam cerita tersebut pada prinsipnya hanyalah ide biasa. Ide tersebut adalah lumrah dan banyak ditemui di berbagai sekolah sehingga ide tersebut bukanlah masalah besar yang harus mendapat penolakan dari berbagai pihak.

Terlepas dari kehambaran ide cerita, Film Tanah Cita-Cita menyisipkan pesan moral bahwasnya Tanah Indonesia adalah tanah cita-cita bagi siapa saja yang ingin mewujudkannya.   

Tuesday, 1 September 2020

PEMBELAJARAN DARING DI MASA PANDEMI

                PEMBELAJARAN DARING  DI MASA PANDEMI

                                              Alamsari, M.Pd.

                                   (SMPN 1 Indralaya Utara)

                                        

                         Bunga cempaka tumbuh di taman,

                         Alangkah indah bunga melati,

                         Teriring doa mari panjatkan,

                         Semoga pandemi segera berhenti.

 

Pagebluk Covid-19 telah menjadi ancaman jiwa bagi lebih 250 juta penduduk Indonesia. Ada banyak hal yang berubah, yang awalnya terasa berbeda. Selama ini tak pernah terbayang oleh kita semua akan datang suatu waktu di mana perubahan konsep paradigma pembelajaran akan mewujud secara nyata.  Pembelajaran yang selama ini secara konvensional mengandalkan tatap muka pada satu ruang dan waktu, kini menjelma dalam dunia maya, yang selama ini saya pikir hanya akan ada di negara maju.

Covid-19 telah memaksa, saya dan kita, untuk melakukan inovasi. Keputusan pemerintah meliburkan sekolah, tidak berarti aktivitas belajar harus terhenti. Anak-anak harus tetap mendapatkan haknya. Kewajiban menuntut ilmu harus tetap dilakukan karena mereka adalah generasi penerus bangsa di masa depan. Tentunya dengan kondisi yang tidak biasa, menggunakan sistem daring. 


Mengajar Daring
(Mengajar Daring)

Saat ini ada banyak aplikasi yang mendukung pembelajaran. Walau begitu, sebagai guru hendaknya kita harus selektif dalam memilih aplikasi apa yang akan digunakan. Tujuannya adalah agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat berjalan secara efektif. Dalam pembelajaran, saya menggunakan aplikasi whatsapp dan facebook. Aplikasi whatsapp digunakan untuk berkomunikasi dengan siswa sedangkan facebook digunakan untuk melaksanakan pembelajaran. Mengapa saya menggunakan whatsapp dan facebook? Anak didik kita adalah generasi milenial. Untuk itu guru pun harus mendekatkan pembelajaran dengan cara yang kekinian. Mayoritas anak didik memiliki whatsapp dan facebook sehingga lebih mudah bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran dan tidak membutuhkan waktu lama untuk memberikan edukasi penggunaan teknologi karena mereka sudah terbiasa menggunakannya.

 

(Facebook sebagai media pembelajaran daring)

Pembelajaran daring memang tidak dapat disamakan dengan pembelajaran tatap muka. Begitu banyak problematika. Tidak semua siswa mempunya gawai. Masih banyak diantara mereka yang berasal dari keluarga dengan kekurangan ekonomi. Banyak di antara mereka yang terkendala dengan jaringan internet. Sinyal masih belum stabil sehingga terkadang timbul dan tenggelam. Jika mati lampu, sinyal juga terkadang ikut-ikutan hilang. Banyak siswa yang bahkan harus pergi ke tempat lain demi mendapatkan sinyal internet. Di tengah pembelajaran tidak jarang ada yang kehabisan kuota. Kuota masih menjadi permasalahan utama karena di Indonesia harga kuota internet memang terbilang cukup mahal harganya. Itulah permasalahan lumrah yang tidak hanya dialami oleh siswa-siswa saya saja tetapi juga dialami oleh hampir sebagian besar siswa lain di seluruh Indonesia.

Pembelajaran daring memang hanya untuk sementara. Hanya pembelajaran darurat di masa pandemi covid 19. Setelahnya pembelajaran dapat kembali normal dengan tatap muka di sekolah jika vaksin Covid-19 sudah ditemukan atau jika pandemi covid 19 sudah tidak lagi ada. Namun kapankah waktu itu? Tiada yang dapat dilakukan kecuali kita hanya dapat berdoa semoga pandemi covid-19 ini cepat berakhir. Semoga di awal tahun nanti, kita semua dapat kembali ke sekolah, bertatap muka, bercanda tawa hanyut dalam pembelajaran yang menyenangkan. Sambil menunggu waktu tersebut, mari kita manfaatkan pembelajaran daring ini dengan sebaik-baiknya untuk melakukan banyak hal yang positif.


#CerdasBerkarakter
#BlogBerkarakter
#SeruBelajarKebiasaanBaru
#BahagiaBelajardiRumah