Selamat Datang di www.pengingatku.blogspot.com

Friday, 10 October 2014

Artikel



Di Balik Degradasi Moral Anak Bangsa:
Kemanakah Peran Orang Tua?

Oleh Alamsari, M.Pd.
(Tenaga Pendidik di SMPN 4 Rantau Panjang, Ogan Ilir)


Berbagai fenomena tawuran, pemerkosaan, pergaulan bebas, sikap individualistis, dan perilaku kurang ajar pada orang yang lebih tua marak terjadi. Degradasi moral yang melanda anak bangsa telah sampai pada kondisi memprihatinkan.

Akhir-akhir ini, sering kita mendengar banyak keluhan atas tingkah laku anak muda (baca: generasi) sekarang. Banyak yang beranggapan bahwa perilaku kehidupan anak muda zaman sekarang telah mengalami degradasi moral yang sungguh memperihatinkan. Anggapan tersebut tentunya tidaklah muncul begitu saja. Maraknya berbagai fenomena dan realita yang pelaku ataupun korban utamanya adalah anak muda, seperti tawuran, pemerkosaan, pergaulan bebas, dan perilaku “kurang ajar” pada orang yang lebih tua mengindikasikan perilaku anak muda sekarang sudah sampai pada tahap kritis.

Masih segar di ingatan kita pemberitaan tentang lima murid SD di Sulsel yang melakukan pemerkosaan kepada temannya sendiri. Setelah ditelisik ternyata pemerkosaan tersebut dilatarbelakangi karena mereka sering menonton video porno. Fenomena itu sebenarnya hanyalah satu dari sekian banyak fenomena-fenomena yang marak terjadi akhir-akhir ini. Lalu pertanda apakah itu? Berbagai fenomena tersebut menunjukkan bahwa perilaku anak muda sekarang telah menyimpang dari norma-norma yang berlaku di tengah kehidupan masyarakat kita. Kesopanan dan kesantunan, tenggang rasa, gotong royong, hormat-menghormati, sudah tak lagi dijunjung. Budaya luar tampaknya telah meluluhkan nilai-nilai budaya pada diri anak muda kita. Apalagi  tanpa kontrol dan sikap yang arif dan bertanggung jawab terhadap budaya tersebut, menjadikan anak muda sekarang telah kehilangan identitas dirinya sebagai generasi dari bangsa yang beradab. Identitas yang seharusnya diwarisi dan dimiliki oleh setiap anak muda Indonesia.

Mengutip pernyataan Thomas Lickona (Sudarwanto, 2012), ada beberapa tanda degradasi moral yang sekaligus merupakan tanda kehancuran suatu bangsa. Diantara beberapa tanda tersebut, yaitu meningkatnya kekerasan pada remaja, penggunaan kata-kata yang buruk, meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, kaburnya batasan moral baik-buruk, dan rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru.
Menanggapi hal itu, banyak pihak yang saling berdebat mengenai penyebab terjadinya degradasi moral tersebut. Berbagai “tumbal” pun dimunculkan sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Ada yang menganggap pemerintahlah yang seharusnya bertanggung jawab. Ada pula yang menyalahkan penggiat industri kreatif karena membuat tayangan yang tidak mendidik atau pun perkembangan pesat teknologi yang berdampak buruk bagi perkembangan anak. Atau banyak pula yang menyalahkan sekolah (guru) karena telah gagal mendidik anak. Namun pernahkah bertanya pada hati nurani kita? Kalau kita mau jujur, pihak yang seharusnya paling bertanggung jawab adalah orang tua si empunya anak itu sendiri.

Kenapa orang tua? Orang tua sebagai sosok yang pertama kali hadir dalam kehidupan anak. Seiring dengan perkembangannya, orang tua juga berperan besar dalam upaya mendidik, membimbing, dan membentuk pola tingkah dan perilaku anak. Orang tualah yang seharusnya mengayomi sang anak dalam kehidupannya. Jika orang tua mampu melaksanakan fungsi dan kewajibannya dengan baik, tentunya degradasi moral anak bangsa yang terjadi saat ini tidak akan terjadi.

“Kemanakah Peran Orang Tua?”

Rasanya terlalu sering kita melihat ada anak gadis yang tanpa risih bepergian atau keluyuran ke luar dengan berpakaian yang seronok. Pakaian yang terbuka atau sengaja di buka di beberapa bagian atau pakaian yang transparan sehingga terlihat bagian tubuhnya. Memakai celana seksi, ngetat, sehingga terlihat paha dan bentuk pinggulnya. Belum lagi warna rambutnya yang berwarna-warni. Atau anak laki-laki yang rambutnya gondrong, bertato, kuku panjang seperti vampir, dan nongkrong di muka umum dengan menghisap sebatang rokok tanpa adanya rasa malu.

Realita lainnya, banyak anak muda sekarang yang pergaulannya sudah begitu bebas. Keluyuran malam-malam tanpa jelas kerjaannya apa. Berpacaran ala barat; Pegangan tangan, berciuman, pelukan, bahkan tidak sedikit yang “kumpul kebo”. Banyak gaya hidup anak muda yang sudah tidak bersahaja. Mengumbar kemewahan, kehebatan, dan egosime dan jauh dari kesederhanaan.

Tawuran hanya gara-gara persoalan sepele, misalnya rebutan pacar, kalah main bola, atau hanya gara-gara tersinggung atas perkataan temannya. Anak muda begitu mudah marah dan diprovokasi. Sikap individualistis juga sudah mewabah. Sedikit anak muda yang mau membantu yang kesulitan. Penghormatan kepada sesama sudah hilang. Jarang sekali kita melihat seorang anak yang membantu orang tua menyeberang jalan dan mempersilahkan orang tua untuk duduk duluan di dalam bis kota seperti dulu. Anak muda sekarang sudah tidak memiliki rasa sopan dan santun. Berkata kasar, berani membantah omongan orang tua, bahkan ada yang berani memukul atau membunuh orang tuanya sendiri.

Realita seperti itu terjadi karena orang tua sekarang sudah edan. Disadari atau tidak, orang tua telah melakukan pembiaran terhadap perilaku anak-anaknya. Berpakaian seksi, merokok, berpacaran, keluyuran, tidak lagi menjadi kekhawatiran bagi orang tua. Atas nama kasih dan sayang, orang tua juga cenderung mengikuti segala keinginan anak. Tidak berusaha untuk memproteksi keinginan tersebut walaupun tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan. Padahal perilaku sekecil apapun itulah yang perlahan membentuk karakter dan kepribadian anak. Dibandingkan orang tua dulu, orang tua sekarang tampaknya telah gagal mendidik anak-anaknya.

Berbagai sanggahan pun dilontarkan. Banyak yang beralasan orang tua dulu hidup pada zaman yang berbeda dengan sekarang. Sehingga tantangan dalam mendidik anak pun tidak begitu besar dibandingkan sekarang. Zaman sekarang sangat sulit untuk mendidik anak menjadi baik. Hal itu dijadikan sebagai suatu pewajaran saat perkembangan zaman, arus globalisasi menyerbu sehingga menuntut kesibukan orang tua tidak lagi memungkinkan melaksanakan tugasnya secara penuh. Orang tua yang seharusnya mengayomi anak tidak mampu lagi melaksanakan tugasnya dengan baik. Jika demikian, adalah suatu kewajaran pula berbagai perilaku menyimpang menjangkiti anak muda sekarang. Pemerkosaan, pencabulan, narkoba, tawuran, seakan menjadi hal yang lumrah.  

Berbagai alasan tersebut sah-sah saja. Namun perlu diingat, bagaimanapun situasi dan kondisinya, orang tua tetaplah harus melaksanakan fungsinya dengan baik. Orang tua tetap harus meluangkan waktunya untuk memperhatikan perkembangan anak. Sebagai orang tua, tentunya tidak ingin sesuatu terjadi pada anak-anak kita. Kita juga tidak ingin anak-anak muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa digerus degradasi moral berkepanjangan. Jangan sampai suatu saat nanti Indonesia akan mengalami “generasi yang hilang” sehingga Indonesia hanya dipimpin oleh anak muda yang sudah menyimpang perilakunya.

Kita tentu merindukan masa seperti dulu; Saat anak-anak mudanya menjunjung tinggi norma kehidupan. Masa dimana anak-anak muda lebih mengutamakan akal dan logika berpikir dalam bersikap dan mengambil keputusan. Masa dimana banyak sekali torehan prestasi yang membanggakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya preventif sesegera mungkin, yaitu mengembalikan orang tua pada fitrahnya sebagai pengayom anak; mendidik dan membimbing anak hingga pada masa kestabilannya.

Artikel



Negeri Krisis Generasi
Oleh Alamsari, M.Pd.
(Guru SMPN 4 Rantau Panjang, Ogan Ilir)
Padahal aksi heroik itu seyogyanya memang sudah menjadi bagian dari karakter bangsa Indonesia. Jika aksi heroik tersebut sudah mampu menjadikan seseorang sebagai pahlawan, artinya negara kita sedang mengalami krisis generasi.
Beberapa waktu lalu marak diperbincangkan aksi heroik tiga pelajar sekolah menengah pertama (SMP) di Bogor yang berhasil menggagalkan upaya pemerkosaan oleh tukang ojek terhadap gadis berusia 14 tahun. Aksi yang berani dan sungguh luar biasa mengingat tak banyak lagi ditemui remaja yang memiliki rasa sosial yang tinggi. Untuk itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan penghargaan berupa piagam dan beasiswa sebagai tanda jasa atas apa yang dilakukan tiga siswa tersebut. Bahkan KPAI pun sampai menyebut ketiganya sebagai pahlawan.
Apa yang dilakukan KPAI sesungguhnya sebagai respons wajar terhadap aksi heroik yang jarang dilakukan. Di satu sisi, kita patut berbangga atas aksi kepahlawanan berupa tindakan berani mempertaruhkan nyawa demi menolong sang korban. Apalagi mengingat di usia yang masih terbilang muda, mereka telah memiliki rasa kesosialan yang begitu tinggi. Namun di sisi lain kita perlu merasa prihatin karena aksi heroik itu sekaligus memberi tamparan yang begitu keras kepada kita bahwa di era modernisasi sekarang ternyata begitu sulit mencari pemuda dengan kepekaan sosial yang tinggi.
Karakter Bangsa
Jika aksi heroik yang dilakukan itu sudah mampu menjadikan seseorang di zaman sekarang sebagai pahlawan, artinya harus diakui Indonesia sedang dalam krisis generasi. Padahal aksi heroik itu memang seharusnya sudah menjadi bagian dari karakter bangsa. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia sendiri terkenal akan karakter masyarakatnya yang begitu bermartabat. Kepedulian sosial yang tinggi adalah satu dari sekian banyak karakter bangsa kita.
Sekedar menapak tilas, Bung Karno pernah mengatakan “Berikan aku sepuluh pemuda akan kuguncang dunia”. Bukan tanpa pertimbangan Bung Karno berkata demikian. Jika kita menilik kualitas dan karakteristik generasi terdahulu harus diakui para pemuda terdahulu memang sungguh luar biasa. Mereka memegang teguh karakter bangsanya. Sehingga melalui tangan-tangan merekalah, Indonesia mampu mencapai masa kegemilangannya.
Bandingkan dengan generasi sekarang! Sebagai seorang pendidik, jujur saya katakan, sungguh sangat memprihatinkan. Semakin pesatnya perkembangan zaman, semakin kikis pula karakter masyarakat kita. Indonesia yang dahulu terkenal akan karakter bangsanya yang berketuhanan, berkesosialan tinggi, bersatu padu, dan selalu mengutamakan musyawarah dalam setiap tindakan, justru sebaliknya. Modernisasi perlahan telah mengubah karakter bangsa. Sikap individualistis semakin meraja lela. Masyarakat kita tak lagi ramah, mudah berpecah belah, dan sangat sulit mencari orang yang peduli akan nasib sesamanya yang kesusahan. Tak banyak lagi orang dengan tingkat empati yang tinggi. Bangsa kita telah terjerembab ke dalam era modernisasi. 
Saya sendiri pernah mengalami secara langsung dampak hilangnya kepedulian sosial yang tinggi itu. Ketika suatu hari saya berjalan di salah satu pasar yang ada di Palembang, dari belakang seorang pencopet dengan terang-terangan membuka tas saya dan berusaha mengambil laptop yang ada di dalamnya. Padahal aksi tersebut disaksikan oleh banyak mata. Penjual, pembeli semua menyaksikan namun hanya diam saja. Alangkah mirisnya perasaan saya waktu itu.
Pengalaman buruk saya mungkin hanyalah secuil dari banyaknya pengalaman-pengalaman buruk yang melanda masyarakat kita. Ki Supriyoko dalam tulisannya Membangun Kembali Karakter Bangsa, pernah mengutip sebuah kalimat bijak "When wealth is lost,  nothing is lost;  when health is lost,  something is lost; (but) when character is lost everything is lost". Maksudnya "Ketika kekayaan hilang, tidak ada yang hilang; ketika kesehatan hilang,ada sesuatu yang hilang; (namun) ketika karakter hilang, segalanya telah hilang. Benar adanya, jika karakter yang seharusnya melekat pada jati diri anak bangsa sudah hilang, tak tahu lagi akan jadi apa bangsa kita ini.
Kembali Pada Hakikatnya
Indonesia menghadapi krisis terbesar dalam sejarah. Lebih besar dari krisis ekonomi tahun 1998 yang pernah melanda. Bangsa kita menghadapi krisis “generasi”. Tak heran begitu banyak persoalan terkait hilangnya karakter generasi bangsa. Pemerkosaan, tawuran, korupsi, hanyalah sederet bukti penyimpangan sosial dari pudarnya karakter itu. Lebih memprihatinkan, penyimpangan sosial yang terjadi bahkan telah menjalar dalam setiap lini kehidupan.
Sebagai pihak yang bersentuhan secara langsung dengan karakter anak, bagi para orang tua dan tenaga pendidik, krisis generasi ini memang menjadi momok yang begitu menakutkan. Betapa tidak, hilangnya karakter dalam diri anak bangsa, telah nampak begitu nyata. Tawuran hanya gara-gara persoalan sepele, misalnya rebutan pacar, kalah main bola, atau hanya gara-gara tersinggung atas perkataan temannya. Anak muda begitu mudah marah dan diprovokasi. Sikap individualistis juga sudah mewabah. Sedikit anak muda yang mau membantu yang kesulitan. Penghormatan kepada sesama juga sudah hilang. Jarang sekali kita melihat seorang anak yang membantu orang tua menyeberang jalan dan mempersilahkan orang tua untuk duduk duluan di dalam bis kota seperti dulu. Anak muda sekarang sudah tidak memiliki rasa sopan dan santun.
Realita tersebut hanyalah beberapa dari sekelumit realita yang marak terjadi akhir-akhir ini. Pemerintah sendiri menyadari ancaman krisis “generasi” yang melanda negeri. Oleh karena itu, sejak tahun 2011 lalu pemerintah melalui Kemdiknas merasa perlu mengeluarkan secara tertulis 16 karakter yang wajib dikembangkan di setiap sekolah. Fokus dari program tersebut adalah pembentukan karakter anak bangsa sedari dini. Tujuannya agar kelak generasi kita yang hampir “hilang” dapat kembali pada hakikatnya. Walaupun terlambat, setidaknya program tersebut dapat membawa angin segar bagi keberlangsungan generasi kita di masa yang akan datang.  
Akhirnya, mengutip pernyataan Thomas Lickona (Sudarwanto, 2012), salah satu tanda kehancuran suatu bangsa adalah kaburnya batasan moral baik-buruk. Jikalau masyarakat kita sudah tak mampu lagi membedakan mana yang hak dan mana yang bathil; mana yang benar dan mana yang salah, maka tinggal menunggu waktu saja, bangsa kita akan menemui kehancurannya. Kita tentu tak ingin hal itu terjadi pada kita. Oleh karena itu, mulai sekarang bersama-sama kita bekerja sama mengembalikan karakter bangsa kita ke hakikatnya semula. Tak ada kata terlambat. Jika kita bersungguh-sungguh, suatu saat kelak, bangsa Indonesia akan kembali menjadi bangsa yang bermartabat. Semoga saja!

Artikel


Refleksi Pelaksanaan Kurikulum 2013
Oleh Alamsari, M.Pd.
(Guru SMP Negeri 4 Rantau Panjang, Ogan Ilir, Sumsel)


“Satu semester lebih Kurikulum 2013 diimplementasikan di sekolah-sekolah. Namun, penerapannya belum begitu efektif. Banyak kendala yang ditemui sehingga menuntut keseriusan pemerintah untuk mengatasinya.”
Apa kabar Kurikulum 2013? Satu semester sudah Kurikulum 2013 diimplementasikan sejak Juli 2013 lalu. Dalam upaya mensukseskan implementasi Kurikulum 2013 tersebut, pemerintah (Kemdikbud) setidaknya telah melatih ribuan guru (baca:guru sasaran) sebagai bekal bagi mereka dalam menerapkan Kurikulum tersebut di sekolahnya masing-masing. Sekedar merefleksi, dalam pelatihannya, pemerintah menerapkan pelatihan secara terbatas, yakni terbatas hanya untuk sekolah-sekolah Berstandar Nasional dan sekolah-sekolah bekas Rintisan Berstandar Internasional (RSBI). Tidak tanggung-tanggung, pemerintah menganggarkan dana milyaran hingga triliunan rupiah guna mensukseskan terimplikasinya Kurikulum 2013 ini.
Lalu satu semeseter lebih berjalan, bagaimanakah hasilnya? Saya sendiri dalam suatu kesempatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia, pernah menyampaikan keraguan saya terhadap kesuksesan Kurikulum 2013. Saya begitu khawatir, jangan-jangan Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kekhawatiran saya tersebut wajar-wajar saja mengingat hasil pengamatan saya terhadap guru-guru sasaran, alih-alih penerapan Kurikulum 2013 berjalan lancar dan sesuai rencana, justru banyak diantara guru-guru yang merasa kebingungan bagaimana menerapkan Kurikulum 2013 ini. Walaupun guru-guru tersebut telah mengikuti pelatihan, namun sepertinya tidak ada efek yang berarti dalam pemahaman terhadap Kurikulum 2013. Penyebabnya, pelatihan yang dlaksanakan begitu singkat sehingga tidak memungkinkan untuk mentransfer pengetahuan Kurikulum 2013 tersebut secara utuh. Banyaknya istilah-istilah baru (walaupun sebenarnya sudah lama) yang belum dimengerti seutuhnya oleh guru sasaran turut menyebabkan implementasi Kurikulum 2013 belum memberikan hasil yang diharapkan.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam laporannya, boleh saja mengatakan bahwa Kurikulum 2013 telah direspons postif oleh sekolah sasaran (Guru-guru dan siswa). Namun, tentu saja Kemdikbud tidak boleh menampikkan segala kendala yang menjadi penghambat kesuksesan Kurikulum 2013 ini. Walaupun secara keseluruhan, memang benar Kurikulum 2013 telah berjalan, namun pelaksanaannya hanya sekedar implementasi kosong. Belum ada perubahan yang menonjol dibandingkan dengan implementasi kurikulum sebelumnya (KTSP). Bahkan, banyak diantara guru sasaran yang yang ujung-ujungnya kembali lagi menggunakan model KTSP dalam pembelajarannya.
Palatihan Kurikulum 2013 Jilid Dua
Memasuki tahun 2014, pemerintah kembali melanjutkan implemnetasi Kurikulum 2013. Tidak main-main, mulai Juli 2014 nanti, semua sekolah di seluruh Tanah Air ditargetkan telah menerapkan Kurikulum 2013. Untuk mempercepat pengimplementasian Kurikulum 2013 itu, bulan lalu pemerintah telah merekrut lebih kurang 30.000 Instruktur Nasional (IN) yang terdiri dari guru dan kepala sekolah. Instruktur Nasional tersebut nantinya akan dilatih oleh Narasumber yang berpengalaman. Pelatihan Kurikulum 2013 tersebut direncanakan akan dilaksanakan pada pertengahan April 2014. Setelah mengikuti pelatihan, Instruktrur Nasonal diwajibkan untuk melakukan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru lain di seluruh sekolah yang tersebar di seluruh daerah. Tujuannya tentu saja untuk mempercepat transfer pengetahuan Kurikulum 2013 sehingga pengimplemntasiannya di semua sekolah dapat tercapai seperti yang ditargetkan.
Apa yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi. Setidaknya pemerintah memang benar-benar serius untuk menerapkan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 yang digadang-gadang sebagai solusi untuk mengatasi kemunduran pendidikan Tanah Air ini diharapkan dapat menjadikan pendidikan Indonesia kembali mencapai puncak kejayaannya. Lalu pertanyaannya apakah cukup dengan pelatihan? Pelatihan Kurikulum 2013 memang penting dan wajib dilakukan. Pelatihan merupakan pintu gerbang bagi guru-guru sebelum masuk dalam implementasi nyata di lapangan (sekolah). Namun, pemerintah juga harus mempertimbangkan berbagai faktor lain yang mungkin menjadi kendala dalam penerapannya di sekolah.
Kurangnya anggaran menyebabkan pemerintah begitu kesulitan untuk mencetak dan mendistribusikan buku pegangan guru dan siswa ke sekolah-sekolah. Tak heran, sehabis pelatihan, guru-guru tetap tidak bisa mengimplementasikan Kurikulum 2013 dikarenakan buku pegangan yang menjadi kunci pelaksanaan Kurikulum 2013 belum terdistribusi dengan baik di sekolah. Dalam buku pegangan itu sendiri berisi materi, langkah-langkah pembelajaran, dan penilaian atau evaluasi hasil belajar siswa yang dapat dijadikan pedoman dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
Kendala yang paling lumrah dan jamak ditemui di hampir semua sekolah di Tanah Air adalah kurangnya sarana dan prasarana yang memadai. Tidak dapat dipungkiri masih banyak sekali sekolah-sekolah yang belum memiliki fasilitas komputer atau teknologi. Di banyak tempat masih mudah ditemui sekolah-sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Lalu apa kaitannya dengan penghambat Kurikulum 2013? Seperti yang telah dirumuskan bahwa dalam Kurikulum 2013, pemerintah melakukan penghapusan terhadap mata pelajaran Teknologi, Komunikasi, dan Informasi (TIK). Sebagai gantinya, pemerintah mengintegrasikan TIK tersebut ke dalam setiap mata pelajaran. Jika demikian, pada implementasinya, setiap guru mata pelajaran yang akan mengajar haruslah mengggunakan TIK sebagai sarana pembelajarannya. Hal yang sangat tidak mungin dilakukan bagi guru-guru di sekolah-sekolah dengan kondisi terbatas.
Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah faktor guru itu sendiri. Pada awal peluncuran Kurikulum 2013, saya beserta banyak tenaga pendidik dan pemerhati pendidikan pernah memprotes konsep Kurikulum 2013 tersebut. Secara keseluruhan apa yang ditawarkan Kurikulum 2013 tidak jauh berbeda dengan KTSP. Walaupun memang ada beberapa bagian yang berubah, namun perubahan tersebut tidaklah begitu esensial. Pada waktu itu, kami menyayangkan sikap pemerintah yang justru menganggap KTSP sebagai penyebab gagalnya pendidikan di sekolah-sekolah. Padahal, jika mau jujur, sebenarnya KTSP memiliki konsep yang cukup baik. Hanya saja, pelaksananya (Guru) sajalah yang pada akhirnya menyesatkan pengimplementasiannya di lapangan. Lumrah ditemui di sekolah-sekolah, banyak guru-guru yang tidak melaksanakan KTSP dalam pembelajarannya. Mengajar hanya sekedar melaksanaan kewajiban tanpa memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan pelaksanaannya di kelas.
Oleh karena itulah, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus terhadap guru. Pemerintah hendaknya melakukan kontrol yang kuat dan menyeluruh terhadap guru sebagai ujung tombak keberhasilan kurikulum. Pemerintah perlu urun rembug bersama seluruh komponen terkait guna merumuskan formula yang tepat dalam upaya pengontrolan terhadap pelaksanaan Kurikulum 2013.
Pendidikan adalah modal dasar pembangunan suatu bangsa. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan handaknya bertindak arif dan bijaksana. Belajar dari kelemahan dan kekurangan pengimplementasian sebelumnya, hendaknya pemerintah semakin berbenah menyempurnakan segala unsur penunjang terkait pengimplementasian Kurikulum 2013. Pada akhirnya, marilah bersama-sama kita mendukung pengimplementasian Kurikulum 2013 ini. Semoga pengorbanan pemerintah dalam merumuskan kurikulum ini dapat membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Semoga saja.































Puisi



Kerbau Pasir

Berdecak-decak pasir didera raga yang begitu lelah
Bahu membusung lusuh kaki menghentak bak tak bernyawa
Matanya berkedip-kedip tersimbah luka
Dari hidung mengepul nafas merah

Kerbau pasir bersisik-sisik
Dipaksa menari-nari didera cambuk tuannya
Tak berbilang berapa derita
Kerbau pasir murka, ia tak kuasa
Ia marah, ia lemah tak berdaya
Biarkan takdir menghujam dalam dendam
Kerbau pasir pasrah tangisi diri sendiri

Rantau Panjang, 25 Januari 2013