Wednesday, 3 December 2014

BEST PRACTICE GURU

"BEST PRACTICE GURU: KARYA INOVATIF DAN PTK KAH?"
Oleh Alamsari, M. Pd.

 
Konon, katanya karya tulis yang paling mudah dibuat adalah best practice. Sesuai istilahnya best practice adalah karya yang berisi pengalaman terbaik guru dalam mengajar. Lalu, samakah best practice dengan PTK atau karya inovatif?
Jawabnya bisa ya dan juga bisa tidak. Dalam suatu ajang lomba, banyak yang salah menafsirkan arti best practice itu sendiri. Betul, PTK dan karya inovatif bisa jadi best practice. Akan tetapi tidak semua PTK dan karya inovatif dapat menjadi best practice. Hakikatnya, best practice adalah pengalaman guru yang paling berkesan dan paling berdampak (memberikan hasil luar biasa) bagi guru dan siswa dalam pembelajaran. Kata kuncinya adalah DAMPAK. Hasil yang luar biasa memang menjadi karakteristik dari best practice. Suatu PTK dan atau KARYA INOVATIF belum tentu mampu memberikan dampak luar biasa. Dampak luar biasa dapat dilihat dari seberapa luas dan seberapa signifikan hasil perlakuan yang dilakukan. Duh, bingung ya?
Saya juga bingung. Saya kasih contoh saja ya!
Contoh kasus:
Dalam bukunya Multiple Intelegences: Memanusiakan Manusia karya Munib Chotib dituliskan pernah ada satu sekolah yang terancam tutup. Sekolah itu, sudah terlanjur dikenal oleh masyarakat sebagai sekolah yang jelek, murid-muridnya nakal, guru-gurunya tidak berkualitas. Bahkan, masyarakat sekitar sekolah tidak ada yang mau memasukkan anaknya ke sana. Duh, gawat bener kan!
Nah, akhirnya sekolah tersebut berpindah manajemen. Sekolah itu berganti pimpinan baru. Pimpinan baru sadar bahwa sekolah itu sudah tidak tertolong lagi. Oleh karena itu, ia memutuskan mengganti nama sekolah itu. Terus, ia juga mengganti semua guru-gurunya. Guru-guru direkrut melalui jalur seleksi yang ketat. Lalu, guru-guru terpilih ditatar selama 3 bulan. Ia juga mengubah semua manajemen sekolah yang ada.
Pada awal tahun ajaran baru Sekolah itu hanya menerima siswa "sisa" dari sekolah lain. Sebab, siswa yang pintar sudah masuk sekolah negeri semua. Namun, pimpinan baru tak khawatir. Dengan perubahan yang telah dilakukan, ia yakin akan mampu mengubah siswa "sisa" tersebut menjadi siswa luar biasa. Untuk itu, dalam pembelajaran, sekolah itu menerapkan pembelajaran berbasis Multiple Intellegences. Setiap anak diyakini memiliki kecerdasan. Setiap guru mengajar dengan penuh kesabaran. Akhirnya, pada tahun pertama dan kedua siswa yang mereka didik berhasil menjuarai berbagai lomba-lomba. Pada tahun ketiga, siswa mereka berhasil menjadi peraih nilai UN tertinggi di provinsi.
Nah, luar biasa bukan. Contoh di atas merupakan contoh perlakuan yang menimbulkan dampak luar biasa. Dari sekolah biasa menjadi sekolah luar biasa. Dari siswa biasa menjadi siswa luar biasa. Dari pembelajaran biasa menjadi pembelajaran luar biasa.


 PEMBELAJARAN: HASIL YANG SIGNIFIKAN?" Coba kita bersama-sama melakukan refleksi. Bagaimana pembelajaran di kelas yang kita lakukan? Sudah benarkah? Sudah sesuaikah? Sudahkah kita menggunakan strategi atau metode pembelajaran? Sudahkah sesuai karakteristik siswa? Sudahkah berbasis need assesment? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang musti dijawab.
Susahkan? Ya! Susah! Jadi guru itu susah. Makanya, kalau ada orang yang mengatakan jadi guru gampang berarti orang itu bukanlah guru.
Lalu, apa kaitannya antara guru, pembelajaran, dan hasil yang signifikan?
Pengalaman saya, dalam pembelajaran, guru acapkali cenderung "menyalahkan" siswa manakala hasil belajar yang dicapai kurang memuaskan. Jika menengok dalam karya tulis semisal PTK pun, pada latar belakang penulisan banyak yang mengklaim hasil pembelajaran kurang menggairahkan karena metode atau strategi pembelajaran yang tidak sesuai sehingga harus ditingkatkan. Benarkah? Saya pribadi sebenarnya bertanya-tanya. Terus terang, ketika akan memberikan vonis nilai kepada siswa, saya harus berpikir 1000 kali sebelum memutuskan. Saya takut, jangan-jangan vonis nilai yang saya berikan tidak tepat. Saya juga takut, jangan-jangan siswa yang mendapat nilai kecil disebabkan saya yang tidak becus mengajar.
Nah, dalam proses pembelajaran, refleksi sebenarnya menjadi langkah awal. Guru senantiasa harus selalu merasa "CURIGA". Curiga terhadap apa saja yang terkait pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan. Guru hendaknya jangan semata-mata berorientasi pada hasil tetapi juga harus berorientasi pada proses. Hasil yang baik ditimbulkan oleh proses yang juga baik. 


 SOAL BERSTANDAR DAN HASIL YANG SIGNIFIKAN: SEBUAH KENISCAYAAN"
Seyogyanya hasil pembelajaran adalah sebuah keniscayaan. Baik atau tidaknya proses pembelajaran yang dilakukan pada akhirnya memang akan terlihat pada hasil. Untuk itu, guru-guru menyiapkan instrumen-instrumen penilaian. Instrumen itu dirancang sedemikian rupa serta diuji validitas dan reliabilitasnya. Di Amerika, setiap tahun guru-guru mampu menelurkan ribuan soal berstandar nasional. Bagaimana dengan Indonesia?
Tak perlu dijawab. Tanyakan pada diri kita sendiri. Saya sendiri belum mampu membuat soal berstandar nasional. Pernah dalam suatu pelatihan saya mencoba membuat soal berstandar nasional, hasilnya soal saya berantakan.
Kenapa harus berstandar sih?
Ya! Saat ini kita berurusan dengan hasil. Apalagi jika yang diinginkan adalah hasil yang signifikan. Bagaimana kita dapat percaya pada hasil pembelajaran anak jika soal yang digunakan belum diuji? Memang, soal yang diujikan pada anak tidak harus soal berstandar. Soal buatan guru pun dapat digunakan. Hanya saja, saat ini kita berhadapan pada angka-angka. Angka-angka sebenarnya bias. Tidak bisa kita jadikan patokan. Anak dengan nilai 80 belum tentu ia lebih pintar dari anak dengan nilai 70. Anak dengan nilai 90 di sekolah A tak menjamin ia lebih pintar dari anak dengan nilai 60 di sekolah B. Saya punya pengalaman tentang ini.

"Dulu, saya pernah mengajar di sebuah sekolah Islam terpadu. Dalam pemberian nilai, kami menuliskan nilai apa adanya. Maka, tak heran di rapor murid kami, sangat mudah menemui angka 40, 50, atau 60. Murid paling pintar di sekolah itu paling-paling nilainya hanya 60, 70, dan ada beberapa yang 80 dan 90. Tiga tahun berselang, murid kami menamatkan sekolahnya. Mereka berencana mau masuk sekolah unggulan di Kabupaten itu. Namun, sangat disayangkan dari 20 murid kami yang ingin masuk (sekedar ikut tes) hanya sekitar 6 orang saja yang boleh mendaftar. Sisanya gugur dan layu sebelum berkembang lantaran nilai mereka di bawah standar yang ditetapkan. Enam murid kami yang berhasil ikut tes pada akhirnya harus bersaing dengan ribuan siswa dari sekolah lain (termasuk sekolah yang notabenya unggul dan nilai muridnya tinggi-tinggi). Nilai rata-rata keenam murid saya masih jauh dibandingkan nilai dari murid-murid sekolah lain. Tes pun dilaksanakan. Setidaknya ada beberapa tahapan tes. Pada hari terakhir, hasil tes diumumkan dan keenam murid saya dinyatakan lulus bahkan beberapa orang diantaranya menduduki peringkat 3 besar nilai tes tertinggi.
Tak hanya sampai di situ. Selama satu tahun berjalan pembelajaran di SMA tersebut, murid kami bahkan mampu menjadi yang terbaik di kelasnya, pun di sekolahnya"

Hasil pembelajaran memang menipu. Jangan pernah puas dengan hanya sekali uji saja. Apalagi sampai memvonis anak ini mampu atau tidak mampu. Nah, untuk itu soal berstandarlah solusinya. Melalui soal berstandar, setidaknya guru mampu MEMINIMALISIR kesalahan penafsiran terhadap hasil pembelajaran anak didiknya.

5 comments:

  1. Satu kalimat utk semua mslh pend di negr kita "Itulah Indonesia"
    Slmt berjuang ! Slmt berkarya !

    ReplyDelete
  2. tetap semangat untuk negeri tercinta

    ReplyDelete
  3. tetap semangat untuk negeri tercinta

    ReplyDelete

Jangan lupa komentarnya ya! Berkomentarlah dengan bijak dan relevan!